Liga sepakbola di belahan dunia sono sudah selesai (sebagian mungkin masih, tapi tidak terlalu diperhatikan). Pergelaran Piala Eropa baru saja menelurkan juara, yang akan bertahta sampai 4 tahun ke depan. Balap motor Grand Prix dan mobil Formula-1 silih berganti mengisi kalender olahraga dunia, Indonesia, bahkan blog ini. Namun, sadarkan kita semua bahwa perayaan olahraga terbesar di bumi Indonesia akan dilangsungkan esok hari?
Hingar bingar olahraga dunia internasional begitu melenakan kita sebagai penikmat di Indonesia, sehingga walaupun sampai sekarang masih bertaraf sebagai "penonton", bukan "pelaku", kita terus mengikuti, bahkan rela mengadu urat "maju tak gentar membela yang benar" (menurut anggapan masing-masing) demi sesuatu yang mungkin berada jauh di luar jangkauan kita. Dan saat Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII akan digelar di Kalimantan Timur, akankan ada pasang mata sebanyak yang menoleh ke pesta sepakbola Eropa yang baru saja selesai dua minggu lalu itu?
PON tidak bisa dipungkiri merepresentasikan keadaan dunia olahraga Indonesia yang paling sahih, sekaligus menjadi potret pembangunan. Yang pertama mungkin masuk di akal, tapi yang kedua? Sejarah mencatat, bahwa sejak masa pemerintahan "Bapak Pembangunan Indonesia", hanya sekali (dan itu pun di masa-masa awal, dimana keputusan itu mungkin sudah dibuat sebelumnya) PON diadakan di luar Jakarta. Penyelenggaraan pesta olahraga se-Indonesia yang tersentralisasi seperti ini memberikan kesan bahwa pembangunan di masa itu terlalu berpusat di ibukota, sehingga tempat lain tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah. "Menjadi tuan rumah" bukan sekedar "kesempatan", tapi lebih kepada kesiapan sarana dan prasarana kota yang ditunjuk. Jika kota-kota di luar Jakarta tidak mendapat kesempatan, itu artinya karena mereka belum mampu menyiapkan sarana olahraga berskala internasional yang bisa digunakan sebagai sarana berkompetisi guna mendapatkan atlet-atlet berskala internasional yang nantinya akan mampu mengharumkan nama bangsa.
Fenomena yang bisa dikatakan memalukan dalam pelaksanaan acara ini adalah jual-beli pemain. Beberapa daerah (yang terang-terangan) melakukan segala cara untuk dapat menarik atlet yang berpotensi meraih medali ke daerahnya dengan iming-iming bonus jutaan rupiah. Saat ini mungkin penikmat olahraga sudah tidak terlalu memusingkan hal "kecil" seperti ini, karena sudah ada tontonan kelas kakap "Barclaycard Premiership League" (BPL) atau "National Basketball Association" (NBA). Namun di masa lampau, siapa yang pernah lupa akan perjuangan Jawa Barat untuk dapat mempertahankan Susy Susanti dari klaim DKI Jakarta bahwa atlet ini adalah milik mereka? Manajer PON Kaltim, sang tuan rumah, dalam wawancaranya dengan salah satu media olahraga berskala nasional terbesar di Indonesia, mengatakan bahwa untuk PON kali ini, banyak atlet luar daerah (tercatat kurang lebih 250 atlet) bahkan melamar ingin terdaftar menjadi atlet Kaltim. Alasannya? Apalagi kalau bukan bonus yang mencapai 150 juta rupiah per keping medali emas.
Perhatian kita, dalam hal ini rakyat Indonesia, dalam ruang lingkup yang terbatas bisa secara sekilas diliat dari entri ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, wikipedia. Jika dimasukkan kata kunci "pekan olahraga nasional", maka informasi yang didapat sangat terbatas. Bahkan di dalam database wiki, pergelaran PON di masa lampau tidak mendapat porsi yang layak, halaman-halaman tersebut hanya menyajikan informasi seadanya, tanpa data standar seperti juara umum dan cerita singkat beberapa pertandingan yang terjadi. Sudah semakin sedikitkah yang peduli pada perkembangan olahraga dalam negeri?
Mengenai pemilihan waktu PON kali ini, rasanya sudah cukup tepat. Paling tidak, setelah berbagai event besar dunia silih berganti datang dan pergi, kini saatnya insan olahraga nasional sejenak melihat ke dalam, menikmati dan memberikan apresiasi untuk para atlet Indonesia yang berjuang demi daerahnya masing-masing. Tinggal apakah penyelenggara dan para partisipan dapat mengejawantahkan harapan publik dalam negeri, yang ingin memberikan kesempatan sekali lagi, tanpa pernah bosan lagi dan lagi, untuk memberikan suatu pembuktian bahwa olahraga Indonesia bisa dibanggakan dan layak menjadi tontonan yang memuaskan, seperti layaknya tontonan dari luar negeri yang dicekokkan ke mata kita sepanjang tahun ini.
MAJU TERUS OLAHRAGA INDONESIA!
Showing posts with label umum. Show all posts
Showing posts with label umum. Show all posts
Friday, July 4, 2008
Friday, May 2, 2008
Salam Olahraga!
SALAM OLAHRAGA!
Selamat datang di blog yang akan memuat cerita-cerita yang memukau dari dunia olahraga -mungkin tidak semuanya, tapi akan diusahakan cukup banyak untuk dapat menambah informasi di sekitar pertandingan olahraga - dari penulis yang juga merangkap penggemar dan pelaku olahraga. Di blog ini akan ada lebih dari satu penulis, dengan latar belakang, sudut pandang, gaya bahasa, olahraga favorit, tim favorit yang sangat mungkin berbeda satu sama lain, tapi tetap mengedepankan jiwa dari olahraga itu sendiri, yaitu sportivitas di atas kemenangan ragawi.
Perkenalkan Steve. Seorang penggila olahraga dari kecil, dikenalkan dengan bulutangkis dari kelas 1 SD, kemudian tenis tidak lama kemudian, dan sampai sekarang, olahraga itulah yang paling digemarinya untuk dilakoni. Mengagumi Boris Becker, Michael Chang, serta Steffi Graf di masa jayanya, sekarang sudah kurang intens mengikuti perkembangannya, dikarenakan ada olahraga yang lebih menarik perhatiannya. Mengenal sepakbola sejak kelas 2 SD, dengan pertandingan pertama adalah Inggris-Belanda 1-3 (fase grup putaran final Piala Eropa 1988), yang berakhir dengan tim yang terakhir menjadi pujaan hatinya. Melihat Liverpool F.C. kalah dari Crystal Palace pada semifinal F.A. Cup 1990, dan menjadi senang dengan klub berbaju merah ini. Basket bertemu dengannya sewaktu SMP, saat kartu basket menjadi mainan sehari-harinya. Langsung kagum dengan David Robinson dan San Antonio Spurs-nya, berlanjut ke Tim Duncan 'n co. Juga nge-fans berat ama duo Michael: Schumacher dan Doohan. Sempat baca suatu majalah bernuansa Kristen saat SMU, dan mengidolai tim Green Bay Packers. Lalu di seputaran 2007 dikenalkan pada Boston Red Sox, langsung merasa kedekatan yang aneh. Mendukung Indonesia sampai mati dalam setiap pertandingan internasional, terutama dalam pertandingan bulutangkis yang sangat mewakili jatidiri bangsa.
Selamat menikmati hidangan ini, dan ingat, tetap pertahankan sikap jujur dalam hidupmu.
SPORT UP YOUR LIFE!!!
Selamat datang di blog yang akan memuat cerita-cerita yang memukau dari dunia olahraga -mungkin tidak semuanya, tapi akan diusahakan cukup banyak untuk dapat menambah informasi di sekitar pertandingan olahraga - dari penulis yang juga merangkap penggemar dan pelaku olahraga. Di blog ini akan ada lebih dari satu penulis, dengan latar belakang, sudut pandang, gaya bahasa, olahraga favorit, tim favorit yang sangat mungkin berbeda satu sama lain, tapi tetap mengedepankan jiwa dari olahraga itu sendiri, yaitu sportivitas di atas kemenangan ragawi.
Perkenalkan Steve. Seorang penggila olahraga dari kecil, dikenalkan dengan bulutangkis dari kelas 1 SD, kemudian tenis tidak lama kemudian, dan sampai sekarang, olahraga itulah yang paling digemarinya untuk dilakoni. Mengagumi Boris Becker, Michael Chang, serta Steffi Graf di masa jayanya, sekarang sudah kurang intens mengikuti perkembangannya, dikarenakan ada olahraga yang lebih menarik perhatiannya. Mengenal sepakbola sejak kelas 2 SD, dengan pertandingan pertama adalah Inggris-Belanda 1-3 (fase grup putaran final Piala Eropa 1988), yang berakhir dengan tim yang terakhir menjadi pujaan hatinya. Melihat Liverpool F.C. kalah dari Crystal Palace pada semifinal F.A. Cup 1990, dan menjadi senang dengan klub berbaju merah ini. Basket bertemu dengannya sewaktu SMP, saat kartu basket menjadi mainan sehari-harinya. Langsung kagum dengan David Robinson dan San Antonio Spurs-nya, berlanjut ke Tim Duncan 'n co. Juga nge-fans berat ama duo Michael: Schumacher dan Doohan. Sempat baca suatu majalah bernuansa Kristen saat SMU, dan mengidolai tim Green Bay Packers. Lalu di seputaran 2007 dikenalkan pada Boston Red Sox, langsung merasa kedekatan yang aneh. Mendukung Indonesia sampai mati dalam setiap pertandingan internasional, terutama dalam pertandingan bulutangkis yang sangat mewakili jatidiri bangsa.
Selamat menikmati hidangan ini, dan ingat, tetap pertahankan sikap jujur dalam hidupmu.
SPORT UP YOUR LIFE!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)