Showing posts with label belanda. Show all posts
Showing posts with label belanda. Show all posts

Wednesday, June 18, 2008

Sang Drakula Terbakar Hangus Api Jingga

*****

Saya tidak tahu banyak mengenai negara-negara Eropa Timur, kecuali mungkin Rusia karena saya mengagumi kesusasteraannya, terutama kedua pujangga besarnya: Leo Tolstoi dan Fyodor Dostoyevski. Di luar itu, lagi-lagi cuma olah raga, sepakbola khususnya, yang menyingkap sedikit tirai pengetahuan mengenai Eropa Timur macam Hongaria, Romania, Ceska, Slovakia, dan sekitarnya. Jadi, jika orang bertanya, "Apa yang kau tahu tentang Romania?" Jawaban saya mungkin: Georghe Hagi, Adrian Mutu, Cristian Chivu (yang ini favorit saya), dan Nadia Comăneci. Oke, tambahkan Drakula deh, Transilvania kan bagian dari Romania. Lain itu, soal seni budaya dan seterusnya pengetahuan saya nol, demikian pula minat untuk mengenal lebih jauh.

Kemarin siang, saya diajak menghadiri lunch meeting oleh salah satu bank rekan bisnis perusahaan tempat saya bekerja. Pikir saya, mbok kalau mau makan siang ya makan siang saja; mengapa harus pakai acara rapat sekaligus? Tapi, karena dijamu dan atasan sedikit memaksa saya ikut, ikutlah saya. Mereka bawa pasukan, kami bawa pasukan. Setelah berkenalan, makan siang sambil rapatnya pun dimulai. Di samping saya, duduk seorang mbak yang wajahnya seperti orang India. Pembicaraan berayun dari soal bisnis, teknologi, isu perumahan rakyat, dan akhirnya kena juga favorit saya: sepakbola. Ternyata si Mbak itu mengikuti juga Piala Eropa yang sedang berlangsung dan mendukung, coba tebak: Romania. Kenapa? Karena ibunya orang Romania (asli). Maaf, kalau saya sedikit norak, tapi rasanya lumayan luar biasa bisa punya kenalan seseorang yang berdarah Romania. Si Mbak pun kontan berkata, "Wah, berarti kita musuh," begitu mengetahui saya pegang Belanda. Namun, dasar pendukung Oranje angkuh, saya dengan kalem mengatakan bahwa Romania bukan musuh bagi Belanda (karena dianggap nggak selevel tentunya) dan bahwa bagi pendukung Belanda, musuh terbesar adalah Jerman.

Tengah malam tadi, sembari menanti siaran langsung pertandingan tak menentukan bagi Belanda melawan Romania, saya berpikir, betapa semua ini di luar dugaan saya dan banyak penggemar sepakbola lainnya. Semula saya kira Belanda akan dipaksa berjuang hingga tetes keringat dan detik terakhir untuk sekedar lolos ke perempat final. Pertandingan melawan Romania akan menjadi sangat menarik karena dua-duanya mungkin masih punya kesempatan lolos mendampingi favorit juara, entah Italia entah Perancis, yang diprediksikan lolos terlebih dulu.

Tapi, prakiraan dan analisa banyak orang ditunggang-balikkan dengan performa Belanda di dua pertandingan sebelumnya. Dan saya kira, Victor Piturcă pun salah perhitungan. Setelah berhasil mengambil 4 poin dari Belanda di kualifikasi Piala Eropa, mungkin ia berpikir kalau bisa menahan imbang Perancis dan Italia lantas menang lawan Belanda maka mereka punya kesempatan besar lolos ke babak berikutnya. Prakiraan tinggal prakiraan. Sekarang, mereka harus menang kalau mau pasti lolos ke perempat final. Jadi, harapan saya, pertandingan ini akan tetap menarik karena meskipun Belanda menurunkan lapis keduanya, Romania akan memaksa Belanda bermain bola sungguhan. Hasilnya mungkin sekedar seri, tapi paling tidak disuguhi permainan menarik dan Van Basten tidak (kelihatan) mengalah begitu saja agar Italia dan Perancis pulang kampung.

Ternyata, dugaan saya salah. Romania seperti vampir yang belum minum darah lagi. Mereka bermain tanpa semangat juang dan tidak menunjukkan mereka niat menang. Tadinya, saya berharap mereka telah belajar dari Turki yang pantang menyerah dan akhirnya bisa memulangkan Petr Cech dan kawan-kawan ke Praha sana. Namun, kenyataannya meskipun Belanda sudah kelihatan santai dan tidak ngoyo, Romania tidak cukup berusaha menekan Belanda. Memang dari mulanya, mereka lebih mengutamakan pertahanan (yang sebenarnya ironis karena pelatihnya juga mantan striker hebat). Tapi tentunya dengan perhitungan bahwa begitu ada kesempatan mencetak gol, ya dimanfaatkan dong sebaik-baiknya. Sekian tendangan berlalu dari Adrian Mutu, Marius Niculae, dan Cristian Chivu yang mengarah ke gawang Belanda, tak ada yang berhasil merobek jala di belakang Maarten Stekelenburg. Sementara di pertandingan yang lain, Italia sudah memimpin 1-0. Wah, di mana keganasan Drakulanya? Sementara itu, di pihak Belanda, Robin Van Persie, Arjen Robben, dan Klaas-Jan Huntelaar masing-masing berlatih menembak dan (seperti sengaja) gagal.

Saya mulai bosan di sepertiga babak pertama. Rasanya seperti berkencan dengan pria pendiam yang takut memulai ‘serangan’ setelah sebelumnya berkencan dengan dua pria lain yang bisa memacu adrenalin dan membuat tereksitasi. Babak kedua pun tak jauh berbeda. Malah akhirnya, Belanda yang ‘terpaksa’ mencetak gol karena dibiarkan bermain bebas tanpa perlawanan yang cukup berarti. Terus terang saya kecewa berat. Kalau tuan rumah Swiss saja masih mau berjuang biarpun sudah pasti tidak lolos, mengapa Romania yang harusnya lebih berpeluang maju ke perempat final justru lesu darah begini? Oke, jujur pula saya akui, saya berharap Perancis dan Italia (apalagi Italia!) tidak lolos seperti kebanyakan pendukung Oranje lainnya. Jadi, memang Romania bikin gemas dan gregetan dengan keloyoannya itu.

Ketika kemudian pertandingan mendekati akhir dan teks berjalan di layar membocorkan berita bahwa Italia telah menambah keunggulan atas Perancis menjadi 2-0, saya makin jemu melihat pasukan drakula tanpa taring itu. Apalagi lantas Robin Van Persie menambahkan lagi satu gol tiga menit menjelang peluit panjang. Habis sudah Romania dan seluruh Italia bersorak bahagia: FORZA ITALIA!

Ah, ternyata, akhirnya Sang Drakula hangus juga dimakan api Jingga.

Oranje Boven!

Monday, June 16, 2008

Merci, Monsieurs, mais je préfère l’équipe de Pays-Bas!

Saya selalu terpesona dengan Perancis: bahasanya, filmnya, Parisnya, anggurnya, Asterixnya, dan banyak lagi. Bahasanya yang indah dan seksi kedengarannya membuat kita mungkin tidak akan cepat sadar kalau sebenarnya sedang dicaci-maki. Filmnya yang cenderung lebih nyeni daripada film-film komersil dari Amerika sana membuat saya memaksa diri belajar bahasa Perancis agar tidak selalu terpaku dengan teks terjemahan. Paris, yang konon salah satu kota paling romantis di dunia, masuk dalam daftar cita-cita kunjungan saya – meskipun, yang lebih menarik bagi saya adalah arsitektur dan karya-karya seni yang ada di sana, bukan romansanya. Lalu, remaja 90-an mana yang tidak suka komik Asterix? Ya, Perancis memang cantik dan elegan, tapi juga punya cita-rasa humor yang renyah.

Oh, ya, satu hal penting lain (yang merupakan salah satu yang terpenting bagi saya): Perancis juga punya Zinedine Zidane. Saya dulu menyebutnya salah satu Dewa sepakbola saking terpesonanya dengan permainannya yang selain berteknis luar biasa, juga cerdas. Tidak heran kalau Perancis berjaya di masanya. Michel Platini pun tidak mampu memenangkan segalanya, tapi Zidane bisa. Bahkan di akhir karir gemilangnya, dia masih sempat membawa Perancis ke final Piala Dunia 2006. Saya pikir, tanpa provokasi Matterazi, Perancis akan menjadi juara dunia untuk kedua kalinya saat itu. Well, nasib berbicara lain dan Italia juara. Hidup harus terus berjalan.

Dua tahun dalam kalender sepakbola berlalu. Zizou tinggal kenangan. Tapi Perancis punya bakat-bakat baru, tentu saja, seperti Franck Ribéry, Samir Nasri, Karim Benzema, Sidney Govou dan lain-lain. Sementara para veteran dengan nama besar pun belum semuanya pensiun; masih ada Thierry Henry, Lilian Thuram, William Galas, Patrick Vieira, dan Claude Makalele. Jadi, sungguh menciutkan hati tatkala saya melihat bahwa tim Oranje saya harus ditempatkan satu grup dengan Perancis (dan Italia!). Duh, mimpi buruk apa? Belanda yang sekarang bukan Belanda dua puluh atau sepuluh tahun yang lalu. Tidak pernah kekurangan penyerang, memang; tapi, tidak punya kekuatan pertahanan yang cukup juga. Pelatihnya pun mantan striker dan penganut filosofi totaal voetbal secara total pula sehingga agak susah diajak me-modif sedikit skema permainannya. Sekali 4-3-3, tetap 4-3-3. Mosok Belanda main dengan skema bertahan 4-5-1 (atau variannya)? Walhasil, saya jadi menyiapkan mental untuk menghadapi kemungkinan bahwa Belanda tidak lolos penyisihan grup. Pikir saya, paling tidak toh masih lolos ke putaran final dan bisa ikut meramaikan di minggu pertama pesta sepakbola Eropa. Sudah itu, ya jadi penonton netral saja.

Tapi, orang bijak dan pintar biasanya tidak selalu benar. Yang membedakan mereka adalah belajar dari pengalaman dan kesalahan serta mau beradaptasi. Jadi, saya senang saat melihat line-up Belanda melawan Italia. Pikir saya saat itu, wah, bisa lah seri. Menit-menit berlalu. Lho, kok mainnya keren begini? Lho, kok golnya Nistelrooij nggak dianulir (terima kasih, Bu Dewi Fortuna!)? Lho, kok bisa memanfaatkan serangan balik dengan sedemikian dahsyat efektivitasnya? Lho, kok…menang?!!! Lawan Italia! Setelah 30 tahun! Ijinkan saya histeris sedikit. Besok-besok lawan Perancis belum tentu menang lagi soalnya. Seorang pengamat sepakbola yang cukup dipandang di sebuah komunitas sepakbola yang saya ikuti pun bilang, pertahanan Perancis masih nomor satu. Oke. Fine. Saya juga sudah senang kok bisa menang lawan Italia.

Hari Jumat lalu, saya mengakhiri hari dengan bermain bowling dengan beberapa teman meskipun sebenarnya agak sedikit demam. Maksudnya, biar paling tidak saya sempat bersenang-senang dulu sebelum bersakit-sakit (hati) kemudian JIKA Belanda kalah. Bayangan saya adalah Belanda akan berusaha menggedor pertahanan Perancis, frustasi, lantas dengan lucunya Thierry Henry akan mencetak gol kemenangan Perancis. Lalu, saya harus bersiap-siap dengan segala SMS ledekan dan celaan soal kekalahan Belanda. Begitu perkiraan saya.

Sabtu, 14 Juni 2008 01.45 WIB. Saya berbaring di tempat tidur menatap monitor saat lagu kebangsaan kedua negara yang bertanding dikumandangkan. Ah, kata saya dalam hati, saya harus mempelajari lagu kebangsaan Perancis "La Marseillaise" karena nada refrainnya bikin bersemangat: "Marchons! Marchons! Qu’un sang impur…abreuve nos sillons!" (Maju! Maju! Biar darah tak murni mereka membasahi ladang kita!). Sebenarnya, lagunya lumayan horor kalau diterjemahkan, mungkin karena dibuat saat revolusi Perancis yang penuh genangan darah. Anyway, saya cukup tenang menonton pertandingan besar ini dimulai. Bahkan saat Dirk Kuyt mencetak gol pertama, saya senang tapi perjalanan masih panjang, sekitar 80 menit lagi. Segalanya masih bisa terjadi. Apalagi kemudian saya lihat bagaimana Ribéry demikian merepotkan dan dengan Govou berhasil menguji keabsahan klaim bahwa Edwin Van der Saar adalah salah satu penjaga gawang terbaik dunia.

Babak kedua dimulai dan tak lama kemudian, Marco Van Basten membuat perubahan yang mungkin bikin beberapa orang mengernyitkan dahi. Direpotkan serangan lawan kok malah masukin dua sayap? Tapi, entah kenapa saya setuju dengan taktiknya. Pertahanan Perancis harus dibikin lebih repot lagi agar pemain tengahnya gak bisa dengan santai bantu-bantu mbolongin pertahanan Belanda. Jadi ketika tidak lama kemudian Robin Van Persie membuat skor menjadi 2-0 untuk Belanda, saya mulai histeris. Baru bisa agak tenang sedikit ketika saya melihat masih setengah jam lagi, waktu yang cukup untuk Perancis mengejar ketinggalan. Dan benar saja, sepuluh menit kemudian saya dengan gugup menggigit bibir sendiri ketika Thierry Henry mencetak gol balasan. Oh! Yang penting jangan kalah. Tapi, dalam sekelebatan, Arjen Robben tahu-tahu sudah ada di ujung lapangan sana dan terciptalah sebuah gol cantik dari sudut yang aneh. Lilian Thuram, Willy Sagnol dan William Gallas tidak bisa mencegah lebih baik dari yang sudah mereka usahakan. Paling tidak, menurut mata awam saya.

Ah, betapa pertandingan ini menjadi sajian sepakbola indah yang memanjakan pecinta Oranje! Finalis Piala Dunia 2006 menjadi obyek taklukan Belanda berikutnya. Kurang alasan apa lagi bagi seorang gadis penggila timnas Belanda buat bersorak kegirangan? Well, kurang satu gol lagi. Wesley Sneijder yang sudah sukses menjadi otak serangan Belanda bersama Rafael Van der Vaart, menutup pertandingan ini dengan sebuah tendangan jarak jauh yang membuahkan gol gagah yang masuk tipis di bawah mistar gawang. Skor akhir Belanda 4 Perancis 1. Dan saya secara resmi histeris. Merci, Monsieurs, mais je préfère l’équipe de Pays-Bas! Thank you, Gentlemen, but I prefer the Netherlands’ team!

Seluruh mata dunia kini menatap Belanda dengan lebih serius dibandingkan kemarin-kemarin. Itulah resikonya berhasil mempecundangi Italia dan Perancis. Ekspektasi orang melesat bagai roket oranye pesat ke langit biru. Tapi, tidak ekspektasi saya. Saya cuma mau menikmati padang bunga tulip jingga selama belum layu. Itu saja sudah cukup. Lebih dari itu, bonus!

Oranje Boven!

Thursday, June 12, 2008

Cinta Oranje Yang Tak Bisa Pudar

Oleh Free Savannah


Jakarta, Juni 1988

Seorang gadis tiga belas tahun sedang berjuang sekaligus menikmati masa remajanya yang complicated. Dia masih menyukai hal-hal maskulin dari masa kecilnya yang ramai dengan sepupu laki-laki, paman, kakak laki-laki, dan lebih banyak teman bocah laki-laki. Tapi, dia mulai merasa bahwa jerawat di wajahnya membuatnya tidak cantik di mata teman-teman (terutama yang cowok) dan kakak kelas yang menghuni kelasnya di pagi hari membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Jadi, sungguh sensasi yang aneh bin lucu khas ABG, bahwa aktivitas seperti nonton sepakbola di tivi dan nongkrong dengan teman-teman cowok yang jago basket harus bercampur dengan mematut wajah lebih lama daripada waktu SD dulu dan menulis puisi cinta (monyet pastinya) tentang kakak kelas yang (dulu kayaknya) ganteng banget.

Lantas, Piala Eropa edisi 1988 pun bergulir. Dia bela-belain nonton tentu saja. Waktu tayang yang pagi buta tidak pernah menjadi masalah buatnya sejak ayah dan ibunya memperkenalkannya dengan sepakbola dunia di tahun 1986. Dia sudah tahu siapa itu John Barnes, Gary Lineker dan Michel Platini, Franz Beckenbauer dan Lothar Matthaeus, dan Ruud Gullit yang sebelumnya sempat berkunjung ke Jakarta dengan klub lamanya, juara Piala Champions 1987-1988 PSV Eindhoven. Dan kemudian, dia ‘berkenalan’ dengan Paolo Maldini yang baru berusia 19 tahun dan tampan rupawan. Buat gadis tiga belas tahun, rasanya dia pria paling pas. Namun, beberapa pertandingan berlalu dan tiba saatnya Belanda mengadu totaal voetball-nya dengan Inggris. Dia pun terpaku pada sosok berbalut kaos Adidas jingga bernomor punggung 12. Mulai detik itu, hatinya cuma buat tim Oranje. Paolo Maldini terlupakan dan baginya cuma ada satu: Marco Van Basten.

Sementara itu, liburan sekolah sudah tiba. Dunianya sekarang melulu sepakbola Eropa. Kakak kelas yang jadi tema puisinya tak semenarik sebulan yang lalu. Dan seperti gadis-gadis ABG lainnya, dengan cepat hatinya pun beralih.

*****

Jakarta, Juni 2008

Sudah dua puluh tahun berlalu sejak saya secara resmi menggilai tim Belanda yang juara Piala Eropa 1988. Saya tetap menggilai mereka sampai sekarang. Kenapanya memang bisa banyak alasannya. Bisa soal sepakbola menyerang dan menawan yang mereka tampilkan, bisa juga soal keterkaitan budaya karena darah PeJAmbon (Peranakan Jawa Ambon) saya. Kebanyakan orang yang berdarah Ambon, konon, memilih tim Belanda sebagai jagoannya. Well, intinya saya pendukung fanatik Belanda.

Tahun-tahun berlalu dengan banyak hal terjadi dalam hidup saya, namun sepakbola selalu punya halaman tersendiri dan Belanda menjadi jingga cerlang (dan juga biru sendu) di lembaran hidup saya. Kadang-kadang memang jingga digantikan biru karena mereka gagal berprestasi: Piala Eropa 1992, 1996, 2000, dan 2004, serta Piala Dunia 1994, 1998, dan 2002 (yang ini bahkan tidak lolos ke putaran final – sungguh membuat hati saya haru biru!). Sementara itu, Marco Van Basten menghuni rubrik khusus di hati saya. Ia menjadi template pria idaman saya dan sempat memotivasi saya untuk mengejar karir menjadi jurnalis seperti ayah saya dengan harapan bisa mewawancarainya. Dan saat di tahun 1995 ia harus menggantung sepatu di usia 30 tahun dengan diiringi airmata pelatih AC Milan saat itu, Fabio Capello, saya pun menangis. Hari itu Belanda biru sendu, bukan jingga cerlang.

Saya mendukung Belanda dengan ikatan emosi yang cukup mendalam. Entah mengapa harus segitunya. Tapi begitulah. Kadang-kadang, dengan tersipu saya akui bahwa saya lebih emosional soal Belanda dibandingkan timnas Indonesia (maafkan aku, Ibu Pertiwi!). Dan ikatan emosi itu meluap lagi tahun ini dengan digelarnya Piala Eropa 2008 karena banyak hal. Tapi, barangkali sosok pelatih Belandalah (dan eks-pria idamanku) yang jadi salah satu alasan utama. Ini dia sosok yang telah memenangkan hampir segalanya sebelum usianya genap 30 tahun: Piala Eropa 1988, Piala Champions dan Piala Super 1989, 1990, 1994, Piala Winners 1987, Piala Toyota 1989, 1990, Juara Liga Belanda bersama Ajax 1982, 1983, 1985, Piala Belanda 1983, 1986, 1987, Juara Liga Italia bersama AC Milan 1988, 1992-1994; dan sebagai individu menjadi FIFA World Player Of The Year 1992, World Footballer of The Year 1988, 1992, dan European Footballer of The Year 1988, 1989, 1992. Jika masih perlu ada penyesalan, satu medali yang gagal diraihnya adalah medali juara Piala Dunia sebagai pemain.

Tahun-tahun yang saya habiskan sebagai pendukung Belanda mengajar saya untuk tidak berharap terlalu banyak. Inilah tim yang memiliki kemampuan teknis individu yang bisa dibilang salah satu yang terbaik di dunia. Namun, mengorkestrasikan individu-individu bertalenta itu menjadi sebuah tim yang padu dan bermental juara bukan perkara yang mudah sama sekali. Dibutuhkan karakter-karakter kuat bergaya militer seperti Rinus Michels (yang dijuluki ‘Sang Jenderal’) dan Guus Hiddink. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ketidakkompakan antar-pemain dan juga antara pemain dengan pelatih seringkali menjadi batu sandungan terbesar tim Belanda. Dalam tim saat ini pun, sempat terjadi beberapa perselisihan. Sebelumnya di ajang Piala Dunia 2006, Robin Van Persie berselisih dengan Arjen Robben, sementara Mark Van Bommel dan Ruud Van Nistelrooij berselisih dengan Marco Van Basten sehingga mereka memutuskan pensiun dari timnas Belanda. Namun, Nistelrooij akhirnya bersedia kembali dan sekarang memperkuat timnas Belanda di ajang Piala Eropa 2008 ini.

Jadi, saat Belanda memulai petualangan Eropanya pada tanggal 9 Juni 2008 pukul 20.45 waktu Swiss (01.45 WIB), saya cuma berharap tidak kalah dari Italia, sang Juara Dunia 2006. Bagaimana tidak, pendukung Oranje paling optimis pun tidak bisa menutup mata bahwa rekor tak pernah menang atas Italia selama 30 tahun bicara banyak soal partai pembuka kedua di Grup C tersebut. Ya, seperti kata seorang teman sesama pendukung Belanda, Italia adalah antidot Belanda – catenaccio adalah penawar totaal voetbal. Memang, akhirnya dengan sedikit keberuntungan yang membuahkan gol pertama dari Nistelrooij, Belanda berhasil mempecundangi sang Juara Dunia dengan skor yang melebihi impian terliar saya: 3-0. Beberapa saat setelah peluit panjang mengakhiri pertandingan perdana Belanda, matahari terbit keemasan dan rasanya saya berjalan di padang kembang tulip jingga. Saya bersukacita sekali, hari itu.

Tapi, buru-buru saya daratkan harapan saya yang mulai melambung. Tim Belanda tidak (atau belum) punya karakter juara sebagus Jerman, Italia, dan Perancis. Tim Belanda secara teknis pun saat ini tidak punya benteng pertahanan sekokoh tahun 1998 dan pematah alur serangan lawan sedinamis Edgar Davids dulu. Satu pertandingan tidak membuktikan banyak, kecuali bahwa rekor buruk yang panjang melawan Italia berhasil dipatahkan. Berada dalam grup maut dengan Italia, Perancis, dan Romania jelas tidak mengijinkan saya bermimpi macam-macam. Tidak. Saya tidak berharap banyak. Saya hanya akan menikmati kemenangan kemarin selama saya bisa dan jika lagi-lagi Belanda tidak melangkah jauh, saya akan menganggapnya sebagai kesempatan untuk menikmati pesta sepakbola Eropa secara netral. Banyak tim yang menampilkan permainan yang menarik dan layak ditonton selain Belanda. Tapi, memang, apapun yang terjadi, cinta Oranje saya tidak bisa pudar.

Oranje Boven!