It's the Final!
Dan kali ini adalah 2 tim favorit yang menunjukkan kebesaran nama mereka di sepakbola Eropa, dengan menumbangkan sejumlah kuda hitam. Jerman, pemilik 3 gelar Eropa, masuk final untuk yang keenam kalinya, dan akan berhadapan dengan Spanyol, yang sudah lebih dari 40 tahun haus akan gelar internasional dan ingin sekali memberikan prestasi semata wayangnya sebuah teman lagi.
Dengan pelatih yang sama-sama mengerti strategi khusus pasukan dan lawan masing-masing, semuanya akan berpulang kepada bagaimana para pemain mengejawantahkan taktik yang telah mereka terima. Jika tidak ada perubahan, maka Jerman akan mengandalkan serangan dari sayap melalui bek berbahaya yang bisa mencetak gol, Philip Lahm, dan Lukas Podolski (kiri), serta sayap kanan produktif Bastian Schweinsteiger dibantu Arne Friederich dalam bertahan. Lahm dan Podolski akan bertemu dengan Sergio Ramos yang sangat brilian dalam bertahan dan menyerang, yang akan dibantu oleh Andres Iniesta, yang sangat mobil dalam menjelajah pertahanan lawan. Jens Lehmann di bawah mistar akan mendapat kawalan dari duo Pert Mertesacker dan Christoph Metzelder dalam menghalau serbuan Fernando Torres, yang sepertinya akan bekerja sendirian, setelah pasangan sehatinya David Villa harus minggir karena cedera, dengan sedikit bantuan dari David Silva dan Fransesc Fabregas. Torsten Frings dan Thomas Hitzlperger akan mencoba menghalau Xavi Hernandez berkreasi membangun serangan dengan leluasa. Michael Ballack bakal mendapat kawalan ketat dari Marcos Senna dalam mengirim umpan-umpan terobosan. Iker Casillas akan menjaga gawang Spanyol dengan Charles Puyol dan Carlos Marchena bertugas meringankan tugasnya dari gangguan Miroslav Klose, yang hebat dalam memenangkan duel di udara. Juan Capdevilla di kiri akan mencoba menahan agar Schweinsteiger tidak leluasa mengancam gawang Casillas.
Pertandingan akan ketat, bahkan cenderung berhati-hati di awal. Jika ada gol di menit-menit awal, maka permainan akan cenderung terbuka. Namun bila tidak, bukan mustahil akan terjadi adu penalti.
Prediksi juara: Jerman diunggulkan dari segi materi dan mental, tapi Spanyol sepertinya akan mampu mengatasi semua beban yang dipanggulnya. SPANYOL!
Showing posts with label piala eropa. Show all posts
Showing posts with label piala eropa. Show all posts
Sunday, June 29, 2008
Wednesday, June 25, 2008
Spanyol Dikepung Para Runner-Up
It's kinda late to write this feature, but whattacare, i'm not writing newspaper, it's a blog, remember? Hehehe... Bukannya supaya tidak dibaca, tapi murni kurang waktu luang aja; ok, let's start!
Semifinal Euro kali ini cukup unik. Bukan berarti semifinal di Euro sebelumnya kurang unik, tapi mungkin baru kali ini mendadak muncul suatu kebetulan yang hampir menjadi pembenaran menyeluruh: SEMUA runner-up grup (ada kecualinya: Spanyol) maju ke semifinal: Turki (A), Jerman (B), dan Rusia (D). Hmm, tidak ada wakil dari grup neraka??? Yups, mereka semua terbakar di kawah candradimuka selama 3 partai, sehingga setelah keluar dari sana, yang tersisa hanyalah sanga...
Kebetulan yang terlalu dipaksakan? Tidak juga, kalau saja Anda mau perhatikan. Ketiga tim runner-up tersebut tidak mengendurkan gasnya di 3 pertandingan awal, selalu mencari formasi terbaik yang sempurna dan cocok dengan ramuan strategi sang pelatih. Mereka menjaga momentum, menjaga ritme permainan, sampai memperhitungkan grafik permainan, yang diharapkan akan mencapai klimaks di final 4 hari lagi. Jika ada halangan, itu adalah karena akumulasi kartu dan cedera pemain. Runner-up terakhir yang tidak lolos, Italia, merasakan pahitnya kehilangan -- bukan satu, melainkan -- dua pemain inti, sehingga gagal menciptakan sejarah di Euro kali ini.
Jerman harus menunggu Bastian Schweinsteiger untuk segera pulih -- sialnya begitu pulih, ia terkena hukuman kartu merah -- serta terus menunggu sampai Michael Ballack dan Miroslav Klose mencapai puncaknya; sedangkan Portugal terlalu sombong untuk menurunkan tim intinya dalam tiga partai berturut. Turki kehilangan bek kanan Sabri Sarioglu di partai awal, sehingga cukup mengganggu keseimbangan; dan Kroasia menganggap kemenangan melawan Jerman sangat besar, sehingga kalau bisa, mereka mau berhenti di situ saja dan tidak melanjutkan sisa kompetisi ini. Rusia bermain di dua partai awal tanpa tarian Andrei Arshavin yang memabukkan, sedangkan Belanda bermain-main dengan nasib ketiga tim lainnya di grup mereka untuk lolos dari "neraka".
Dari ketiga kandidat juara ini, saat ini bisa dibilang Turki lah yang paling sial, karena dengan jumlah pemain terhukum akibat akumulasi kartu yang meningkat serta badai cedera, akhirnya stok pemain untuk menghadapi Jerman HANYA 13 orang. Dengan baluan semangat militan yang mereka miliki, mereka masih mungkin mengejutkan Eropa. Namun, Jerman tetap sedikit diuntungkan, terutama bila ternyata lawannya telah lelah dan melewati klimaks permainan mereka.
Calon finalis: JERMAN, perpanjangan waktu.
Sekaranglah saatnya bagi Spanyol untuk merasakan dampak kehadiran Arshavin bagi tim Beruang Merah. Luis Aragones akan berpikir keras bagaimana meredam permainan Rusia yang sangat dinamis dalam menyerang dan bertahan, ketika di saat yang sama timnya belum mampu mengeluarkan permainan terbaik yang membuat mereka pantas diunggulkan. Skor 4-1 di pertemuan pertama akan coba dibalik oleh pasukan Guus Hiddink, sedangkan Si Bijak dari Hortoleza akan mempertaruhkan ke-"bijak"-kannya di hadapan calon master Total Football yang baru.
Calon finalis: RUSIA, waktu normal.
Semifinal Euro kali ini cukup unik. Bukan berarti semifinal di Euro sebelumnya kurang unik, tapi mungkin baru kali ini mendadak muncul suatu kebetulan yang hampir menjadi pembenaran menyeluruh: SEMUA runner-up grup (ada kecualinya: Spanyol) maju ke semifinal: Turki (A), Jerman (B), dan Rusia (D). Hmm, tidak ada wakil dari grup neraka??? Yups, mereka semua terbakar di kawah candradimuka selama 3 partai, sehingga setelah keluar dari sana, yang tersisa hanyalah sanga...
Kebetulan yang terlalu dipaksakan? Tidak juga, kalau saja Anda mau perhatikan. Ketiga tim runner-up tersebut tidak mengendurkan gasnya di 3 pertandingan awal, selalu mencari formasi terbaik yang sempurna dan cocok dengan ramuan strategi sang pelatih. Mereka menjaga momentum, menjaga ritme permainan, sampai memperhitungkan grafik permainan, yang diharapkan akan mencapai klimaks di final 4 hari lagi. Jika ada halangan, itu adalah karena akumulasi kartu dan cedera pemain. Runner-up terakhir yang tidak lolos, Italia, merasakan pahitnya kehilangan -- bukan satu, melainkan -- dua pemain inti, sehingga gagal menciptakan sejarah di Euro kali ini.
Jerman harus menunggu Bastian Schweinsteiger untuk segera pulih -- sialnya begitu pulih, ia terkena hukuman kartu merah -- serta terus menunggu sampai Michael Ballack dan Miroslav Klose mencapai puncaknya; sedangkan Portugal terlalu sombong untuk menurunkan tim intinya dalam tiga partai berturut. Turki kehilangan bek kanan Sabri Sarioglu di partai awal, sehingga cukup mengganggu keseimbangan; dan Kroasia menganggap kemenangan melawan Jerman sangat besar, sehingga kalau bisa, mereka mau berhenti di situ saja dan tidak melanjutkan sisa kompetisi ini. Rusia bermain di dua partai awal tanpa tarian Andrei Arshavin yang memabukkan, sedangkan Belanda bermain-main dengan nasib ketiga tim lainnya di grup mereka untuk lolos dari "neraka".
Dari ketiga kandidat juara ini, saat ini bisa dibilang Turki lah yang paling sial, karena dengan jumlah pemain terhukum akibat akumulasi kartu yang meningkat serta badai cedera, akhirnya stok pemain untuk menghadapi Jerman HANYA 13 orang. Dengan baluan semangat militan yang mereka miliki, mereka masih mungkin mengejutkan Eropa. Namun, Jerman tetap sedikit diuntungkan, terutama bila ternyata lawannya telah lelah dan melewati klimaks permainan mereka.
Calon finalis: JERMAN, perpanjangan waktu.
Sekaranglah saatnya bagi Spanyol untuk merasakan dampak kehadiran Arshavin bagi tim Beruang Merah. Luis Aragones akan berpikir keras bagaimana meredam permainan Rusia yang sangat dinamis dalam menyerang dan bertahan, ketika di saat yang sama timnya belum mampu mengeluarkan permainan terbaik yang membuat mereka pantas diunggulkan. Skor 4-1 di pertemuan pertama akan coba dibalik oleh pasukan Guus Hiddink, sedangkan Si Bijak dari Hortoleza akan mempertaruhkan ke-"bijak"-kannya di hadapan calon master Total Football yang baru.
Calon finalis: RUSIA, waktu normal.
Tuesday, June 24, 2008
Lengkap Sudah Keempat Semifinalis
Kembali dua tim tak terduga menumbangkan tim-tim yang lebih difavoritkan. Rusia, si kuda hitam mampu disetir Guus Hiddink dengan jempolan hingga melewati juniornya, Marco Van Basten dan Belanda; sedangkan Italia -- katanya, walaupun mereka sering ngos-ngosan di fase grup, jangan harap mereka akan mudah ditaklukkan jika sudah lolos dari grup -- tidak bisa kembali menyuruh dewi fortuna untuk membelokkan tendangan penalti pemain-pemain Spanyol, seperti yang telah dilakukannya kepada Adrian Mutu.
Rusia benar-benar mengajari Belanda bagaimana Total Voetbal sesungguhnya -- atau "абсолєтный футбћл", bahasa Rusianya. Permainan bertenaga yang dinamis a la Hiddink hanya mampu diimbangi seadanya oleh barisan kreator besutan Van Basten. Kepiawaian Edwin Van der Sar tidak membuat mereka frustasi, dan akhirnya di babak kedua gol pertama pun tercipta melalui kaki Roman Pavlyuchenko, setelah duetnya dengan Andrei Arshavin terus menerus membuat bek-bek Belanda sakit perut karena takut kebobolan. Melalui serangan sporadis, Belanda mampu memperpanjang napas di penghujung waktu normal, setelah umpan tendangan bebas Wesley Sneijder mampu disundul Ruud van Nistelrooy, tapi hanya sampai di situ perjuangan mereka. Di babak perpanjangan waktu, melalui kaki Arshavin, tercipta 2 gol lagi, satu umpan ke kepala Dmitri Torbinsky, satu lagi dituntaskannya sendiri dari sebuah lemparan ke dalam kilat. Dan Van Basten hanya bisa terkulai saat kepalanya dielus Hiddink...
Sedangkan partai antara dua tim favorit penggemar, Italia dan Spanyol, berlangsung datar, cenderung membosankan; hal yang bisa terlihat dari hasil akhir berupa kemenangan yang ditentukan dari adu penalti. Kedua tim memainkan bola dengan terlalu hati-hati sehingga menjadi antiklimaks dari semua partai pada babak perempat final kali ini. Iker Casillas, yang bermain bagus di waktu normal, kembali menjadi pahlawan dengan memblok 2 tendangan penalti dari Daniele De Rossi dan Antonio Di Natale. Di semifinal sudah menanti tim yang mereka kalahkan di pertandingan pertama fase grup dengan 4-1.
Rusia benar-benar mengajari Belanda bagaimana Total Voetbal sesungguhnya -- atau "абсолєтный футбћл", bahasa Rusianya. Permainan bertenaga yang dinamis a la Hiddink hanya mampu diimbangi seadanya oleh barisan kreator besutan Van Basten. Kepiawaian Edwin Van der Sar tidak membuat mereka frustasi, dan akhirnya di babak kedua gol pertama pun tercipta melalui kaki Roman Pavlyuchenko, setelah duetnya dengan Andrei Arshavin terus menerus membuat bek-bek Belanda sakit perut karena takut kebobolan. Melalui serangan sporadis, Belanda mampu memperpanjang napas di penghujung waktu normal, setelah umpan tendangan bebas Wesley Sneijder mampu disundul Ruud van Nistelrooy, tapi hanya sampai di situ perjuangan mereka. Di babak perpanjangan waktu, melalui kaki Arshavin, tercipta 2 gol lagi, satu umpan ke kepala Dmitri Torbinsky, satu lagi dituntaskannya sendiri dari sebuah lemparan ke dalam kilat. Dan Van Basten hanya bisa terkulai saat kepalanya dielus Hiddink...
Sedangkan partai antara dua tim favorit penggemar, Italia dan Spanyol, berlangsung datar, cenderung membosankan; hal yang bisa terlihat dari hasil akhir berupa kemenangan yang ditentukan dari adu penalti. Kedua tim memainkan bola dengan terlalu hati-hati sehingga menjadi antiklimaks dari semua partai pada babak perempat final kali ini. Iker Casillas, yang bermain bagus di waktu normal, kembali menjadi pahlawan dengan memblok 2 tendangan penalti dari Daniele De Rossi dan Antonio Di Natale. Di semifinal sudah menanti tim yang mereka kalahkan di pertandingan pertama fase grup dengan 4-1.
Saturday, June 21, 2008
Jerman Usir Portugal, Turki Lebih Tangguh Dari Kroasia
Dua tim sudah pulang dan berusaha melupakan mimpi indah mengangkat tropi Kejuaraan Eropa. Ironisnya, keduanya merupakan tim yang lebih diunggulkan di mata para pengamat sepakbola netral. Tetapi drama Piala Eropa masih akan melanjutkan cerita-cerita tak terduga lainnya di sisi bawah. Sisi atas telah meloloskan Jerman dan Turki yang akan memperebutkan satu tempat di final.
Jerman kurang diunggulkan melawan Portugal, namun statusnya sebagai tim spesialis turnamen tetap mengerikan di mata lawan-lawannya. Kali ini, Portugal kena batunya. Jika melihat permainan tim Bavaria ini di babak penyisihan, memang kurang meyakinkan jika dibandingkan dengan tim Brasilnya Eropa ini. Tapi setelah meraih gol penting di partai lawan Austria, perubahan formasi serta penerapan taktik yang tepat menjadi kunci di partai hidup-mati ini. Sedangkan Portugal, yang bisa dibilang kurang mendapat lawan sepadan di fase grup, bermain tanpa mengubah apa-apa dari formasi dan taktik yang diterapkan pada 2 partai awal, padahal lawannya adalah juara Eropa 3 kali, yang juga mengalahkan mereka di perebutan juara ketiga pada pergelaran Piala Dunia terakhir. Formasi sukses Jerman itu antara lain dengan memasangkan duet penyerang Miroslav Klose-Lukas Podolski, berhubung Mario Gomez kurang dapat bekerja sama dengan Klose di fase grup. Di tengah, ketiadaan Torsten Frings diganti Simon Rolfes dengan baik. Meskipun tidak ada tendangan spekulasi khas Frings, namun lini tengah Portugal dibuat mati ide dalam membangun serangan. Sayap yang sebelumnya kurang agresif mendapat suntikan dengan bermainnya Bastian Schweinsteiger serta Thomas Hitzlsperger. Bek kanan Marcell Jansen yang juga kurang baik dalam membantu serangan merelakan tempatnya pada Arne Friedrich.
Mulai babak pertama, Jerman terus mendominasi pertandingan, dan menuai hasilnya melalui gebrakan di sayap kiri oleh Podolski yang dituntaskan Schweinsteiger. Berikutnya dalam sebuah tendangan bebas, Schweinsteiger kembali berperan setelah umpannya dengan cermat disundul Klose, gol pertama sang top skor Piala Dunia 2006. Kesialan Portugal bisa dikatakan bertambah karena Joao Moutinho harus ditandu dan diganti Raul Meireles. Di akhir babak, Portugal sedikit bernapas lega setelah tendangan Cristiano Ronaldo yang ditepis Jens Lehmann mampu dituntaskan sang kapten, Nuno Gomes. Babak kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Jerman menambah gol setelah Michael Ballack menyambut umpan dari tendangan bebas, sesuatu yang sebenarnya sudah disadari Luis Felipe Scolari sebagai kelemahan timnya. Namun gol ini sendiri menuai kontroversi, karena terlihat Ballack "sedikit" mendorong Paulo Ferreira saat akan melompat. Mencoba membalikkan keadaan, Scolari memasukkan Helder Postiga dan Nani menggantikan Nuno Gomes dan Armando Petit. Kedua pemain ini terbukti mampu menambah daya serang timnya sehingga menghasilkan gol kedua di lima menit terakhir. Sayangnya, gol ketiga yang ditunggu-tunggu tak hadir juga dan Jerman menunggu pemenang partai perempat final kedua.
From-Zero-To-Hero: BASTIAN SCHWEINSTEIGER. Pergerakannya benar-benar merepotkan pertahanan lawannya, sehingga tidak mampu lepas dari tekanan Jerman. Umpan-umpannya set-piece yang terukur dan naluri mencetak gol yang tinggi seakan menghapus dosanya saat bertindak konyol di partai melawan Kroasia, ketika ia mendapat kartu merah saat Jerman sedang berusaha mencari gol penyeimbang.
From-Hero-To-Zero: CRISTIANO RONALDO. Permainan yang menawan saat menghancurkan Cek tidak kelihatan sama sekali. Sikap egoisnya bahkan merusakkan permainan indah timnya. Hampir setiap bola yang sedang dikuasainya di dekat area penalti ditembakkan langsung ke arah gawang, lebih dari setengahnya tidak menemui target. Bahkan gol Nuno Gomes pun sebenarnya hasil dari tendangannya yang tidak mampu ditangkap Lehmann, padahal dia bisa mengumpan biasa untuk mengkreasikan gol.
Keesokan harinya dimainkan partai antara dua kuda hitam yang tak kalah menariknya. Namun karena terlalu berhati-hati, babak pertama berjalan lambat. Permainan baru "dimulai" di babak kedua, namun dengan kecenderungan bahwa kedua pelatih mengantisipasi pertandingan yang panjang, maka pergantian pemain dilakukan secara berhati-hati. Sial bagi Turki, dalam menghentikan serangan lawan, mereka banyak menerima kartu kuning, sehingga 3 pemainnya dipastikan mendapat skorsing 1 partai setelah pertandingan ini. Rustu Rechber memainkan peran yang vital saat ia mampu mementahkan tendangan bebas keras Darijo Srna dan peluang emas lainnya, antara lain dari Ivica Olic.
Drama sesungguhnya baru dimulai saat babak perpanjangan waktu. Dalam satu pergerakan menusuk sisi kiri pertahanan Turki, Luca Modric mampu memanfaatkan kesalahan Rustu dan umpan lambungnya tidak disia-siakan Ivan Klasnic, 1-0 untuk Kroasia di menit ke-119! Di saat genting ini, pelatih Slaven Bilic ingin membuang waktu dengan memasukkan pemain pengganti, namun tidak diperhatikan wasit. Bola offside Mladen Petric langsung ditendang Rustu jauh ke depan, dan dimanfaatkan dengan baik oleh penyerang pengganti Semih Senturk yang dengan tendangan spekulasinya mampu menyamakan kedudukan di saat wasit sudah akan meniup peluit tanda akhir pertandingan, 1-1 di menit ke-122!
Penalti pun dimainkan, dengan situasi yang memihak Turki akibat gol penyama kedudukan itu. Adu penalti pun menjadi ajang pertaruhan pelatih, dan pengalaman Fatih Terim mengalahkan Bilic. Pemain-pemain muda Kroasia yang ditugaskan untuk mengambil penalti terlihat tegang, sehingga dari 4 pemain hanya 1 yang berhasil. Turki pun mampu melangkah ke semifinal, pencapaian terbaik selama mereka mengikuti Piala Eropa.
Fakta menarik: OFFSIDE PERTAMA di pertandingan ini tercatat pada menit ke-62 oleh Ivica Olic, sesuatu yang tidak lazim melihat kecenderungan kedua tim yang silih berganti menyerang, walaupun kendali lebih ke Kroasia.
Jerman kurang diunggulkan melawan Portugal, namun statusnya sebagai tim spesialis turnamen tetap mengerikan di mata lawan-lawannya. Kali ini, Portugal kena batunya. Jika melihat permainan tim Bavaria ini di babak penyisihan, memang kurang meyakinkan jika dibandingkan dengan tim Brasilnya Eropa ini. Tapi setelah meraih gol penting di partai lawan Austria, perubahan formasi serta penerapan taktik yang tepat menjadi kunci di partai hidup-mati ini. Sedangkan Portugal, yang bisa dibilang kurang mendapat lawan sepadan di fase grup, bermain tanpa mengubah apa-apa dari formasi dan taktik yang diterapkan pada 2 partai awal, padahal lawannya adalah juara Eropa 3 kali, yang juga mengalahkan mereka di perebutan juara ketiga pada pergelaran Piala Dunia terakhir. Formasi sukses Jerman itu antara lain dengan memasangkan duet penyerang Miroslav Klose-Lukas Podolski, berhubung Mario Gomez kurang dapat bekerja sama dengan Klose di fase grup. Di tengah, ketiadaan Torsten Frings diganti Simon Rolfes dengan baik. Meskipun tidak ada tendangan spekulasi khas Frings, namun lini tengah Portugal dibuat mati ide dalam membangun serangan. Sayap yang sebelumnya kurang agresif mendapat suntikan dengan bermainnya Bastian Schweinsteiger serta Thomas Hitzlsperger. Bek kanan Marcell Jansen yang juga kurang baik dalam membantu serangan merelakan tempatnya pada Arne Friedrich.
Mulai babak pertama, Jerman terus mendominasi pertandingan, dan menuai hasilnya melalui gebrakan di sayap kiri oleh Podolski yang dituntaskan Schweinsteiger. Berikutnya dalam sebuah tendangan bebas, Schweinsteiger kembali berperan setelah umpannya dengan cermat disundul Klose, gol pertama sang top skor Piala Dunia 2006. Kesialan Portugal bisa dikatakan bertambah karena Joao Moutinho harus ditandu dan diganti Raul Meireles. Di akhir babak, Portugal sedikit bernapas lega setelah tendangan Cristiano Ronaldo yang ditepis Jens Lehmann mampu dituntaskan sang kapten, Nuno Gomes. Babak kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Jerman menambah gol setelah Michael Ballack menyambut umpan dari tendangan bebas, sesuatu yang sebenarnya sudah disadari Luis Felipe Scolari sebagai kelemahan timnya. Namun gol ini sendiri menuai kontroversi, karena terlihat Ballack "sedikit" mendorong Paulo Ferreira saat akan melompat. Mencoba membalikkan keadaan, Scolari memasukkan Helder Postiga dan Nani menggantikan Nuno Gomes dan Armando Petit. Kedua pemain ini terbukti mampu menambah daya serang timnya sehingga menghasilkan gol kedua di lima menit terakhir. Sayangnya, gol ketiga yang ditunggu-tunggu tak hadir juga dan Jerman menunggu pemenang partai perempat final kedua.
From-Zero-To-Hero: BASTIAN SCHWEINSTEIGER. Pergerakannya benar-benar merepotkan pertahanan lawannya, sehingga tidak mampu lepas dari tekanan Jerman. Umpan-umpannya set-piece yang terukur dan naluri mencetak gol yang tinggi seakan menghapus dosanya saat bertindak konyol di partai melawan Kroasia, ketika ia mendapat kartu merah saat Jerman sedang berusaha mencari gol penyeimbang.
From-Hero-To-Zero: CRISTIANO RONALDO. Permainan yang menawan saat menghancurkan Cek tidak kelihatan sama sekali. Sikap egoisnya bahkan merusakkan permainan indah timnya. Hampir setiap bola yang sedang dikuasainya di dekat area penalti ditembakkan langsung ke arah gawang, lebih dari setengahnya tidak menemui target. Bahkan gol Nuno Gomes pun sebenarnya hasil dari tendangannya yang tidak mampu ditangkap Lehmann, padahal dia bisa mengumpan biasa untuk mengkreasikan gol.
Keesokan harinya dimainkan partai antara dua kuda hitam yang tak kalah menariknya. Namun karena terlalu berhati-hati, babak pertama berjalan lambat. Permainan baru "dimulai" di babak kedua, namun dengan kecenderungan bahwa kedua pelatih mengantisipasi pertandingan yang panjang, maka pergantian pemain dilakukan secara berhati-hati. Sial bagi Turki, dalam menghentikan serangan lawan, mereka banyak menerima kartu kuning, sehingga 3 pemainnya dipastikan mendapat skorsing 1 partai setelah pertandingan ini. Rustu Rechber memainkan peran yang vital saat ia mampu mementahkan tendangan bebas keras Darijo Srna dan peluang emas lainnya, antara lain dari Ivica Olic.
Drama sesungguhnya baru dimulai saat babak perpanjangan waktu. Dalam satu pergerakan menusuk sisi kiri pertahanan Turki, Luca Modric mampu memanfaatkan kesalahan Rustu dan umpan lambungnya tidak disia-siakan Ivan Klasnic, 1-0 untuk Kroasia di menit ke-119! Di saat genting ini, pelatih Slaven Bilic ingin membuang waktu dengan memasukkan pemain pengganti, namun tidak diperhatikan wasit. Bola offside Mladen Petric langsung ditendang Rustu jauh ke depan, dan dimanfaatkan dengan baik oleh penyerang pengganti Semih Senturk yang dengan tendangan spekulasinya mampu menyamakan kedudukan di saat wasit sudah akan meniup peluit tanda akhir pertandingan, 1-1 di menit ke-122!
Penalti pun dimainkan, dengan situasi yang memihak Turki akibat gol penyama kedudukan itu. Adu penalti pun menjadi ajang pertaruhan pelatih, dan pengalaman Fatih Terim mengalahkan Bilic. Pemain-pemain muda Kroasia yang ditugaskan untuk mengambil penalti terlihat tegang, sehingga dari 4 pemain hanya 1 yang berhasil. Turki pun mampu melangkah ke semifinal, pencapaian terbaik selama mereka mengikuti Piala Eropa.
Fakta menarik: OFFSIDE PERTAMA di pertandingan ini tercatat pada menit ke-62 oleh Ivica Olic, sesuatu yang tidak lazim melihat kecenderungan kedua tim yang silih berganti menyerang, walaupun kendali lebih ke Kroasia.
Label:
fase gugur,
piala eropa,
piala eropa 2008,
sepakbola
Thursday, June 12, 2008
Cinta Oranje Yang Tak Bisa Pudar
Oleh Free Savannah
Jakarta, Juni 1988
Seorang gadis tiga belas tahun sedang berjuang sekaligus menikmati masa remajanya yang complicated. Dia masih menyukai hal-hal maskulin dari masa kecilnya yang ramai dengan sepupu laki-laki, paman, kakak laki-laki, dan lebih banyak teman bocah laki-laki. Tapi, dia mulai merasa bahwa jerawat di wajahnya membuatnya tidak cantik di mata teman-teman (terutama yang cowok) dan kakak kelas yang menghuni kelasnya di pagi hari membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Jadi, sungguh sensasi yang aneh bin lucu khas ABG, bahwa aktivitas seperti nonton sepakbola di tivi dan nongkrong dengan teman-teman cowok yang jago basket harus bercampur dengan mematut wajah lebih lama daripada waktu SD dulu dan menulis puisi cinta (monyet pastinya) tentang kakak kelas yang (dulu kayaknya) ganteng banget.
Lantas, Piala Eropa edisi 1988 pun bergulir. Dia bela-belain nonton tentu saja. Waktu tayang yang pagi buta tidak pernah menjadi masalah buatnya sejak ayah dan ibunya memperkenalkannya dengan sepakbola dunia di tahun 1986. Dia sudah tahu siapa itu John Barnes, Gary Lineker dan Michel Platini, Franz Beckenbauer dan Lothar Matthaeus, dan Ruud Gullit yang sebelumnya sempat berkunjung ke Jakarta dengan klub lamanya, juara Piala Champions 1987-1988 PSV Eindhoven. Dan kemudian, dia ‘berkenalan’ dengan Paolo Maldini yang baru berusia 19 tahun dan tampan rupawan. Buat gadis tiga belas tahun, rasanya dia pria paling pas. Namun, beberapa pertandingan berlalu dan tiba saatnya Belanda mengadu totaal voetball-nya dengan Inggris. Dia pun terpaku pada sosok berbalut kaos Adidas jingga bernomor punggung 12. Mulai detik itu, hatinya cuma buat tim Oranje. Paolo Maldini terlupakan dan baginya cuma ada satu: Marco Van Basten.
Sementara itu, liburan sekolah sudah tiba. Dunianya sekarang melulu sepakbola Eropa. Kakak kelas yang jadi tema puisinya tak semenarik sebulan yang lalu. Dan seperti gadis-gadis ABG lainnya, dengan cepat hatinya pun beralih.
*****
Jakarta, Juni 2008
Sudah dua puluh tahun berlalu sejak saya secara resmi menggilai tim Belanda yang juara Piala Eropa 1988. Saya tetap menggilai mereka sampai sekarang. Kenapanya memang bisa banyak alasannya. Bisa soal sepakbola menyerang dan menawan yang mereka tampilkan, bisa juga soal keterkaitan budaya karena darah PeJAmbon (Peranakan Jawa Ambon) saya. Kebanyakan orang yang berdarah Ambon, konon, memilih tim Belanda sebagai jagoannya. Well, intinya saya pendukung fanatik Belanda.
Tahun-tahun berlalu dengan banyak hal terjadi dalam hidup saya, namun sepakbola selalu punya halaman tersendiri dan Belanda menjadi jingga cerlang (dan juga biru sendu) di lembaran hidup saya. Kadang-kadang memang jingga digantikan biru karena mereka gagal berprestasi: Piala Eropa 1992, 1996, 2000, dan 2004, serta Piala Dunia 1994, 1998, dan 2002 (yang ini bahkan tidak lolos ke putaran final – sungguh membuat hati saya haru biru!). Sementara itu, Marco Van Basten menghuni rubrik khusus di hati saya. Ia menjadi template pria idaman saya dan sempat memotivasi saya untuk mengejar karir menjadi jurnalis seperti ayah saya dengan harapan bisa mewawancarainya. Dan saat di tahun 1995 ia harus menggantung sepatu di usia 30 tahun dengan diiringi airmata pelatih AC Milan saat itu, Fabio Capello, saya pun menangis. Hari itu Belanda biru sendu, bukan jingga cerlang.
Saya mendukung Belanda dengan ikatan emosi yang cukup mendalam. Entah mengapa harus segitunya. Tapi begitulah. Kadang-kadang, dengan tersipu saya akui bahwa saya lebih emosional soal Belanda dibandingkan timnas Indonesia (maafkan aku, Ibu Pertiwi!). Dan ikatan emosi itu meluap lagi tahun ini dengan digelarnya Piala Eropa 2008 karena banyak hal. Tapi, barangkali sosok pelatih Belandalah (dan eks-pria idamanku) yang jadi salah satu alasan utama. Ini dia sosok yang telah memenangkan hampir segalanya sebelum usianya genap 30 tahun: Piala Eropa 1988, Piala Champions dan Piala Super 1989, 1990, 1994, Piala Winners 1987, Piala Toyota 1989, 1990, Juara Liga Belanda bersama Ajax 1982, 1983, 1985, Piala Belanda 1983, 1986, 1987, Juara Liga Italia bersama AC Milan 1988, 1992-1994; dan sebagai individu menjadi FIFA World Player Of The Year 1992, World Footballer of The Year 1988, 1992, dan European Footballer of The Year 1988, 1989, 1992. Jika masih perlu ada penyesalan, satu medali yang gagal diraihnya adalah medali juara Piala Dunia sebagai pemain.
Tahun-tahun yang saya habiskan sebagai pendukung Belanda mengajar saya untuk tidak berharap terlalu banyak. Inilah tim yang memiliki kemampuan teknis individu yang bisa dibilang salah satu yang terbaik di dunia. Namun, mengorkestrasikan individu-individu bertalenta itu menjadi sebuah tim yang padu dan bermental juara bukan perkara yang mudah sama sekali. Dibutuhkan karakter-karakter kuat bergaya militer seperti Rinus Michels (yang dijuluki ‘Sang Jenderal’) dan Guus Hiddink. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ketidakkompakan antar-pemain dan juga antara pemain dengan pelatih seringkali menjadi batu sandungan terbesar tim Belanda. Dalam tim saat ini pun, sempat terjadi beberapa perselisihan. Sebelumnya di ajang Piala Dunia 2006, Robin Van Persie berselisih dengan Arjen Robben, sementara Mark Van Bommel dan Ruud Van Nistelrooij berselisih dengan Marco Van Basten sehingga mereka memutuskan pensiun dari timnas Belanda. Namun, Nistelrooij akhirnya bersedia kembali dan sekarang memperkuat timnas Belanda di ajang Piala Eropa 2008 ini.
Jadi, saat Belanda memulai petualangan Eropanya pada tanggal 9 Juni 2008 pukul 20.45 waktu Swiss (01.45 WIB), saya cuma berharap tidak kalah dari Italia, sang Juara Dunia 2006. Bagaimana tidak, pendukung Oranje paling optimis pun tidak bisa menutup mata bahwa rekor tak pernah menang atas Italia selama 30 tahun bicara banyak soal partai pembuka kedua di Grup C tersebut. Ya, seperti kata seorang teman sesama pendukung Belanda, Italia adalah antidot Belanda – catenaccio adalah penawar totaal voetbal. Memang, akhirnya dengan sedikit keberuntungan yang membuahkan gol pertama dari Nistelrooij, Belanda berhasil mempecundangi sang Juara Dunia dengan skor yang melebihi impian terliar saya: 3-0. Beberapa saat setelah peluit panjang mengakhiri pertandingan perdana Belanda, matahari terbit keemasan dan rasanya saya berjalan di padang kembang tulip jingga. Saya bersukacita sekali, hari itu.
Tapi, buru-buru saya daratkan harapan saya yang mulai melambung. Tim Belanda tidak (atau belum) punya karakter juara sebagus Jerman, Italia, dan Perancis. Tim Belanda secara teknis pun saat ini tidak punya benteng pertahanan sekokoh tahun 1998 dan pematah alur serangan lawan sedinamis Edgar Davids dulu. Satu pertandingan tidak membuktikan banyak, kecuali bahwa rekor buruk yang panjang melawan Italia berhasil dipatahkan. Berada dalam grup maut dengan Italia, Perancis, dan Romania jelas tidak mengijinkan saya bermimpi macam-macam. Tidak. Saya tidak berharap banyak. Saya hanya akan menikmati kemenangan kemarin selama saya bisa dan jika lagi-lagi Belanda tidak melangkah jauh, saya akan menganggapnya sebagai kesempatan untuk menikmati pesta sepakbola Eropa secara netral. Banyak tim yang menampilkan permainan yang menarik dan layak ditonton selain Belanda. Tapi, memang, apapun yang terjadi, cinta Oranje saya tidak bisa pudar.
Oranje Boven!
Jakarta, Juni 1988
Seorang gadis tiga belas tahun sedang berjuang sekaligus menikmati masa remajanya yang complicated. Dia masih menyukai hal-hal maskulin dari masa kecilnya yang ramai dengan sepupu laki-laki, paman, kakak laki-laki, dan lebih banyak teman bocah laki-laki. Tapi, dia mulai merasa bahwa jerawat di wajahnya membuatnya tidak cantik di mata teman-teman (terutama yang cowok) dan kakak kelas yang menghuni kelasnya di pagi hari membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Jadi, sungguh sensasi yang aneh bin lucu khas ABG, bahwa aktivitas seperti nonton sepakbola di tivi dan nongkrong dengan teman-teman cowok yang jago basket harus bercampur dengan mematut wajah lebih lama daripada waktu SD dulu dan menulis puisi cinta (monyet pastinya) tentang kakak kelas yang (dulu kayaknya) ganteng banget.
Lantas, Piala Eropa edisi 1988 pun bergulir. Dia bela-belain nonton tentu saja. Waktu tayang yang pagi buta tidak pernah menjadi masalah buatnya sejak ayah dan ibunya memperkenalkannya dengan sepakbola dunia di tahun 1986. Dia sudah tahu siapa itu John Barnes, Gary Lineker dan Michel Platini, Franz Beckenbauer dan Lothar Matthaeus, dan Ruud Gullit yang sebelumnya sempat berkunjung ke Jakarta dengan klub lamanya, juara Piala Champions 1987-1988 PSV Eindhoven. Dan kemudian, dia ‘berkenalan’ dengan Paolo Maldini yang baru berusia 19 tahun dan tampan rupawan. Buat gadis tiga belas tahun, rasanya dia pria paling pas. Namun, beberapa pertandingan berlalu dan tiba saatnya Belanda mengadu totaal voetball-nya dengan Inggris. Dia pun terpaku pada sosok berbalut kaos Adidas jingga bernomor punggung 12. Mulai detik itu, hatinya cuma buat tim Oranje. Paolo Maldini terlupakan dan baginya cuma ada satu: Marco Van Basten.
Sementara itu, liburan sekolah sudah tiba. Dunianya sekarang melulu sepakbola Eropa. Kakak kelas yang jadi tema puisinya tak semenarik sebulan yang lalu. Dan seperti gadis-gadis ABG lainnya, dengan cepat hatinya pun beralih.
*****
Jakarta, Juni 2008
Sudah dua puluh tahun berlalu sejak saya secara resmi menggilai tim Belanda yang juara Piala Eropa 1988. Saya tetap menggilai mereka sampai sekarang. Kenapanya memang bisa banyak alasannya. Bisa soal sepakbola menyerang dan menawan yang mereka tampilkan, bisa juga soal keterkaitan budaya karena darah PeJAmbon (Peranakan Jawa Ambon) saya. Kebanyakan orang yang berdarah Ambon, konon, memilih tim Belanda sebagai jagoannya. Well, intinya saya pendukung fanatik Belanda.
Tahun-tahun berlalu dengan banyak hal terjadi dalam hidup saya, namun sepakbola selalu punya halaman tersendiri dan Belanda menjadi jingga cerlang (dan juga biru sendu) di lembaran hidup saya. Kadang-kadang memang jingga digantikan biru karena mereka gagal berprestasi: Piala Eropa 1992, 1996, 2000, dan 2004, serta Piala Dunia 1994, 1998, dan 2002 (yang ini bahkan tidak lolos ke putaran final – sungguh membuat hati saya haru biru!). Sementara itu, Marco Van Basten menghuni rubrik khusus di hati saya. Ia menjadi template pria idaman saya dan sempat memotivasi saya untuk mengejar karir menjadi jurnalis seperti ayah saya dengan harapan bisa mewawancarainya. Dan saat di tahun 1995 ia harus menggantung sepatu di usia 30 tahun dengan diiringi airmata pelatih AC Milan saat itu, Fabio Capello, saya pun menangis. Hari itu Belanda biru sendu, bukan jingga cerlang.
Saya mendukung Belanda dengan ikatan emosi yang cukup mendalam. Entah mengapa harus segitunya. Tapi begitulah. Kadang-kadang, dengan tersipu saya akui bahwa saya lebih emosional soal Belanda dibandingkan timnas Indonesia (maafkan aku, Ibu Pertiwi!). Dan ikatan emosi itu meluap lagi tahun ini dengan digelarnya Piala Eropa 2008 karena banyak hal. Tapi, barangkali sosok pelatih Belandalah (dan eks-pria idamanku) yang jadi salah satu alasan utama. Ini dia sosok yang telah memenangkan hampir segalanya sebelum usianya genap 30 tahun: Piala Eropa 1988, Piala Champions dan Piala Super 1989, 1990, 1994, Piala Winners 1987, Piala Toyota 1989, 1990, Juara Liga Belanda bersama Ajax 1982, 1983, 1985, Piala Belanda 1983, 1986, 1987, Juara Liga Italia bersama AC Milan 1988, 1992-1994; dan sebagai individu menjadi FIFA World Player Of The Year 1992, World Footballer of The Year 1988, 1992, dan European Footballer of The Year 1988, 1989, 1992. Jika masih perlu ada penyesalan, satu medali yang gagal diraihnya adalah medali juara Piala Dunia sebagai pemain.
Tahun-tahun yang saya habiskan sebagai pendukung Belanda mengajar saya untuk tidak berharap terlalu banyak. Inilah tim yang memiliki kemampuan teknis individu yang bisa dibilang salah satu yang terbaik di dunia. Namun, mengorkestrasikan individu-individu bertalenta itu menjadi sebuah tim yang padu dan bermental juara bukan perkara yang mudah sama sekali. Dibutuhkan karakter-karakter kuat bergaya militer seperti Rinus Michels (yang dijuluki ‘Sang Jenderal’) dan Guus Hiddink. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ketidakkompakan antar-pemain dan juga antara pemain dengan pelatih seringkali menjadi batu sandungan terbesar tim Belanda. Dalam tim saat ini pun, sempat terjadi beberapa perselisihan. Sebelumnya di ajang Piala Dunia 2006, Robin Van Persie berselisih dengan Arjen Robben, sementara Mark Van Bommel dan Ruud Van Nistelrooij berselisih dengan Marco Van Basten sehingga mereka memutuskan pensiun dari timnas Belanda. Namun, Nistelrooij akhirnya bersedia kembali dan sekarang memperkuat timnas Belanda di ajang Piala Eropa 2008 ini.
Jadi, saat Belanda memulai petualangan Eropanya pada tanggal 9 Juni 2008 pukul 20.45 waktu Swiss (01.45 WIB), saya cuma berharap tidak kalah dari Italia, sang Juara Dunia 2006. Bagaimana tidak, pendukung Oranje paling optimis pun tidak bisa menutup mata bahwa rekor tak pernah menang atas Italia selama 30 tahun bicara banyak soal partai pembuka kedua di Grup C tersebut. Ya, seperti kata seorang teman sesama pendukung Belanda, Italia adalah antidot Belanda – catenaccio adalah penawar totaal voetbal. Memang, akhirnya dengan sedikit keberuntungan yang membuahkan gol pertama dari Nistelrooij, Belanda berhasil mempecundangi sang Juara Dunia dengan skor yang melebihi impian terliar saya: 3-0. Beberapa saat setelah peluit panjang mengakhiri pertandingan perdana Belanda, matahari terbit keemasan dan rasanya saya berjalan di padang kembang tulip jingga. Saya bersukacita sekali, hari itu.
Tapi, buru-buru saya daratkan harapan saya yang mulai melambung. Tim Belanda tidak (atau belum) punya karakter juara sebagus Jerman, Italia, dan Perancis. Tim Belanda secara teknis pun saat ini tidak punya benteng pertahanan sekokoh tahun 1998 dan pematah alur serangan lawan sedinamis Edgar Davids dulu. Satu pertandingan tidak membuktikan banyak, kecuali bahwa rekor buruk yang panjang melawan Italia berhasil dipatahkan. Berada dalam grup maut dengan Italia, Perancis, dan Romania jelas tidak mengijinkan saya bermimpi macam-macam. Tidak. Saya tidak berharap banyak. Saya hanya akan menikmati kemenangan kemarin selama saya bisa dan jika lagi-lagi Belanda tidak melangkah jauh, saya akan menganggapnya sebagai kesempatan untuk menikmati pesta sepakbola Eropa secara netral. Banyak tim yang menampilkan permainan yang menarik dan layak ditonton selain Belanda. Tapi, memang, apapun yang terjadi, cinta Oranje saya tidak bisa pudar.
Oranje Boven!
Subscribe to:
Posts (Atom)