Wednesday, June 25, 2008
Spanyol Dikepung Para Runner-Up
Semifinal Euro kali ini cukup unik. Bukan berarti semifinal di Euro sebelumnya kurang unik, tapi mungkin baru kali ini mendadak muncul suatu kebetulan yang hampir menjadi pembenaran menyeluruh: SEMUA runner-up grup (ada kecualinya: Spanyol) maju ke semifinal: Turki (A), Jerman (B), dan Rusia (D). Hmm, tidak ada wakil dari grup neraka??? Yups, mereka semua terbakar di kawah candradimuka selama 3 partai, sehingga setelah keluar dari sana, yang tersisa hanyalah sanga...
Kebetulan yang terlalu dipaksakan? Tidak juga, kalau saja Anda mau perhatikan. Ketiga tim runner-up tersebut tidak mengendurkan gasnya di 3 pertandingan awal, selalu mencari formasi terbaik yang sempurna dan cocok dengan ramuan strategi sang pelatih. Mereka menjaga momentum, menjaga ritme permainan, sampai memperhitungkan grafik permainan, yang diharapkan akan mencapai klimaks di final 4 hari lagi. Jika ada halangan, itu adalah karena akumulasi kartu dan cedera pemain. Runner-up terakhir yang tidak lolos, Italia, merasakan pahitnya kehilangan -- bukan satu, melainkan -- dua pemain inti, sehingga gagal menciptakan sejarah di Euro kali ini.
Jerman harus menunggu Bastian Schweinsteiger untuk segera pulih -- sialnya begitu pulih, ia terkena hukuman kartu merah -- serta terus menunggu sampai Michael Ballack dan Miroslav Klose mencapai puncaknya; sedangkan Portugal terlalu sombong untuk menurunkan tim intinya dalam tiga partai berturut. Turki kehilangan bek kanan Sabri Sarioglu di partai awal, sehingga cukup mengganggu keseimbangan; dan Kroasia menganggap kemenangan melawan Jerman sangat besar, sehingga kalau bisa, mereka mau berhenti di situ saja dan tidak melanjutkan sisa kompetisi ini. Rusia bermain di dua partai awal tanpa tarian Andrei Arshavin yang memabukkan, sedangkan Belanda bermain-main dengan nasib ketiga tim lainnya di grup mereka untuk lolos dari "neraka".
Dari ketiga kandidat juara ini, saat ini bisa dibilang Turki lah yang paling sial, karena dengan jumlah pemain terhukum akibat akumulasi kartu yang meningkat serta badai cedera, akhirnya stok pemain untuk menghadapi Jerman HANYA 13 orang. Dengan baluan semangat militan yang mereka miliki, mereka masih mungkin mengejutkan Eropa. Namun, Jerman tetap sedikit diuntungkan, terutama bila ternyata lawannya telah lelah dan melewati klimaks permainan mereka.
Calon finalis: JERMAN, perpanjangan waktu.
Sekaranglah saatnya bagi Spanyol untuk merasakan dampak kehadiran Arshavin bagi tim Beruang Merah. Luis Aragones akan berpikir keras bagaimana meredam permainan Rusia yang sangat dinamis dalam menyerang dan bertahan, ketika di saat yang sama timnya belum mampu mengeluarkan permainan terbaik yang membuat mereka pantas diunggulkan. Skor 4-1 di pertemuan pertama akan coba dibalik oleh pasukan Guus Hiddink, sedangkan Si Bijak dari Hortoleza akan mempertaruhkan ke-"bijak"-kannya di hadapan calon master Total Football yang baru.
Calon finalis: RUSIA, waktu normal.
Tuesday, June 24, 2008
Lengkap Sudah Keempat Semifinalis
Rusia benar-benar mengajari Belanda bagaimana Total Voetbal sesungguhnya -- atau "абсолєтный футбћл", bahasa Rusianya. Permainan bertenaga yang dinamis a la Hiddink hanya mampu diimbangi seadanya oleh barisan kreator besutan Van Basten. Kepiawaian Edwin Van der Sar tidak membuat mereka frustasi, dan akhirnya di babak kedua gol pertama pun tercipta melalui kaki Roman Pavlyuchenko, setelah duetnya dengan Andrei Arshavin terus menerus membuat bek-bek Belanda sakit perut karena takut kebobolan. Melalui serangan sporadis, Belanda mampu memperpanjang napas di penghujung waktu normal, setelah umpan tendangan bebas Wesley Sneijder mampu disundul Ruud van Nistelrooy, tapi hanya sampai di situ perjuangan mereka. Di babak perpanjangan waktu, melalui kaki Arshavin, tercipta 2 gol lagi, satu umpan ke kepala Dmitri Torbinsky, satu lagi dituntaskannya sendiri dari sebuah lemparan ke dalam kilat. Dan Van Basten hanya bisa terkulai saat kepalanya dielus Hiddink...
Sedangkan partai antara dua tim favorit penggemar, Italia dan Spanyol, berlangsung datar, cenderung membosankan; hal yang bisa terlihat dari hasil akhir berupa kemenangan yang ditentukan dari adu penalti. Kedua tim memainkan bola dengan terlalu hati-hati sehingga menjadi antiklimaks dari semua partai pada babak perempat final kali ini. Iker Casillas, yang bermain bagus di waktu normal, kembali menjadi pahlawan dengan memblok 2 tendangan penalti dari Daniele De Rossi dan Antonio Di Natale. Di semifinal sudah menanti tim yang mereka kalahkan di pertandingan pertama fase grup dengan 4-1.
Saturday, June 21, 2008
Jerman Usir Portugal, Turki Lebih Tangguh Dari Kroasia
Jerman kurang diunggulkan melawan Portugal, namun statusnya sebagai tim spesialis turnamen tetap mengerikan di mata lawan-lawannya. Kali ini, Portugal kena batunya. Jika melihat permainan tim Bavaria ini di babak penyisihan, memang kurang meyakinkan jika dibandingkan dengan tim Brasilnya Eropa ini. Tapi setelah meraih gol penting di partai lawan Austria, perubahan formasi serta penerapan taktik yang tepat menjadi kunci di partai hidup-mati ini. Sedangkan Portugal, yang bisa dibilang kurang mendapat lawan sepadan di fase grup, bermain tanpa mengubah apa-apa dari formasi dan taktik yang diterapkan pada 2 partai awal, padahal lawannya adalah juara Eropa 3 kali, yang juga mengalahkan mereka di perebutan juara ketiga pada pergelaran Piala Dunia terakhir. Formasi sukses Jerman itu antara lain dengan memasangkan duet penyerang Miroslav Klose-Lukas Podolski, berhubung Mario Gomez kurang dapat bekerja sama dengan Klose di fase grup. Di tengah, ketiadaan Torsten Frings diganti Simon Rolfes dengan baik. Meskipun tidak ada tendangan spekulasi khas Frings, namun lini tengah Portugal dibuat mati ide dalam membangun serangan. Sayap yang sebelumnya kurang agresif mendapat suntikan dengan bermainnya Bastian Schweinsteiger serta Thomas Hitzlsperger. Bek kanan Marcell Jansen yang juga kurang baik dalam membantu serangan merelakan tempatnya pada Arne Friedrich.
Mulai babak pertama, Jerman terus mendominasi pertandingan, dan menuai hasilnya melalui gebrakan di sayap kiri oleh Podolski yang dituntaskan Schweinsteiger. Berikutnya dalam sebuah tendangan bebas, Schweinsteiger kembali berperan setelah umpannya dengan cermat disundul Klose, gol pertama sang top skor Piala Dunia 2006. Kesialan Portugal bisa dikatakan bertambah karena Joao Moutinho harus ditandu dan diganti Raul Meireles. Di akhir babak, Portugal sedikit bernapas lega setelah tendangan Cristiano Ronaldo yang ditepis Jens Lehmann mampu dituntaskan sang kapten, Nuno Gomes. Babak kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Jerman menambah gol setelah Michael Ballack menyambut umpan dari tendangan bebas, sesuatu yang sebenarnya sudah disadari Luis Felipe Scolari sebagai kelemahan timnya. Namun gol ini sendiri menuai kontroversi, karena terlihat Ballack "sedikit" mendorong Paulo Ferreira saat akan melompat. Mencoba membalikkan keadaan, Scolari memasukkan Helder Postiga dan Nani menggantikan Nuno Gomes dan Armando Petit. Kedua pemain ini terbukti mampu menambah daya serang timnya sehingga menghasilkan gol kedua di lima menit terakhir. Sayangnya, gol ketiga yang ditunggu-tunggu tak hadir juga dan Jerman menunggu pemenang partai perempat final kedua.
From-Zero-To-Hero: BASTIAN SCHWEINSTEIGER. Pergerakannya benar-benar merepotkan pertahanan lawannya, sehingga tidak mampu lepas dari tekanan Jerman. Umpan-umpannya set-piece yang terukur dan naluri mencetak gol yang tinggi seakan menghapus dosanya saat bertindak konyol di partai melawan Kroasia, ketika ia mendapat kartu merah saat Jerman sedang berusaha mencari gol penyeimbang.
From-Hero-To-Zero: CRISTIANO RONALDO. Permainan yang menawan saat menghancurkan Cek tidak kelihatan sama sekali. Sikap egoisnya bahkan merusakkan permainan indah timnya. Hampir setiap bola yang sedang dikuasainya di dekat area penalti ditembakkan langsung ke arah gawang, lebih dari setengahnya tidak menemui target. Bahkan gol Nuno Gomes pun sebenarnya hasil dari tendangannya yang tidak mampu ditangkap Lehmann, padahal dia bisa mengumpan biasa untuk mengkreasikan gol.
Keesokan harinya dimainkan partai antara dua kuda hitam yang tak kalah menariknya. Namun karena terlalu berhati-hati, babak pertama berjalan lambat. Permainan baru "dimulai" di babak kedua, namun dengan kecenderungan bahwa kedua pelatih mengantisipasi pertandingan yang panjang, maka pergantian pemain dilakukan secara berhati-hati. Sial bagi Turki, dalam menghentikan serangan lawan, mereka banyak menerima kartu kuning, sehingga 3 pemainnya dipastikan mendapat skorsing 1 partai setelah pertandingan ini. Rustu Rechber memainkan peran yang vital saat ia mampu mementahkan tendangan bebas keras Darijo Srna dan peluang emas lainnya, antara lain dari Ivica Olic.
Drama sesungguhnya baru dimulai saat babak perpanjangan waktu. Dalam satu pergerakan menusuk sisi kiri pertahanan Turki, Luca Modric mampu memanfaatkan kesalahan Rustu dan umpan lambungnya tidak disia-siakan Ivan Klasnic, 1-0 untuk Kroasia di menit ke-119! Di saat genting ini, pelatih Slaven Bilic ingin membuang waktu dengan memasukkan pemain pengganti, namun tidak diperhatikan wasit. Bola offside Mladen Petric langsung ditendang Rustu jauh ke depan, dan dimanfaatkan dengan baik oleh penyerang pengganti Semih Senturk yang dengan tendangan spekulasinya mampu menyamakan kedudukan di saat wasit sudah akan meniup peluit tanda akhir pertandingan, 1-1 di menit ke-122!
Penalti pun dimainkan, dengan situasi yang memihak Turki akibat gol penyama kedudukan itu. Adu penalti pun menjadi ajang pertaruhan pelatih, dan pengalaman Fatih Terim mengalahkan Bilic. Pemain-pemain muda Kroasia yang ditugaskan untuk mengambil penalti terlihat tegang, sehingga dari 4 pemain hanya 1 yang berhasil. Turki pun mampu melangkah ke semifinal, pencapaian terbaik selama mereka mengikuti Piala Eropa.
Fakta menarik: OFFSIDE PERTAMA di pertandingan ini tercatat pada menit ke-62 oleh Ivica Olic, sesuatu yang tidak lazim melihat kecenderungan kedua tim yang silih berganti menyerang, walaupun kendali lebih ke Kroasia.
Thursday, June 19, 2008
Saatnya Mereka Berguguran...
Kalaupun bisa disebut kejutan (atau malah Kejutannya kejutan!) yaitu tersingkirnya juara bertahan Yunani secara tragis, tidak mampu mendapat poin dari tiga pertandingannya di grup tidak terlalu maut yang hanya melibatkan tim yang susah berprestasi di turnamen tapi tetap dianggap tim besar: Spanyol, tim yang selalu hebat di kualifikasi namun hanya bisa mengejutkan di turnamen sebenarnya: Swedia, serta tim yang tidak diharapkan karena telah menyingkirkan negara penemu sepakbola modern yang sekarang banyak diidolai: Rusia. Swedia kemudian menemani Yunani untuk pulang lebih awal.
Nah, lantas bagaimana dengan grup yang maut bang...ged? Gimana ga maut, ada tiga tim juara Eropa di sini (plus 4 gelar juara dunia, kalau itu masuk hitungan, but what the heck...) dan satu tim ngeyel pisan: Rumania, yang susah disuruh pulang. Buktinya, dua tim finalis piala dunia lalu (sekali lagi, sepertinya piala dunia tidak berarti apa-apa di sini) harus berebut tiket terakhir: Italia-Perancis, sambil mengemis pada tim lain: Belanda.
Lalu, dua tim tuan rumah yang harus rehat lebih awal karena ditaklukkan lawan yang lebih mumpuni. Swiss, di satu sisi, harus Portugal dan Turki -- yang akhirnya lolos -- serta Cek. Di sisi lain, Austria menghadapi Kroasia dan tim paling diunggulkan di turnamen ini: Jerman, serta tim yang juga akhirnya tidak lolos: Polandia.
Lalu bagaimana kans para kontestan di perempat final? Hari ini kita akan menyaksikan pertarungan terlalu dini antara Portugal dan Jerman. Portugal lolos dari grup A dengan dua kemenangan meyakinkan serta memberikan satu partai pada tuan rumah Swiss. Barisan pertahanan mereka kurang teruji, kontras dengan serangan maut barisan penyerangnya. Jerman sendiri kesulitan meramu serangan yang berujung pada sedikitnya gol pada fase grup. Kelemahan yang sangat tereksploitir saat melawan Kroasia akan coba diulangi oleh Portugal. Namun sebagai tim spesialis turnamen, Jerman tidak akan kalah begitu saja.
Perkiraan: JERMAN, perpanjangan waktu.
Turki akan mencoba melawan tim yang seimbang antara skill individu dengan kolektivitas, Kroasia. Pengalaman Kroasia dalam meredam keunggulan teknik pemain Jerman sangat berharga dalam menentukan langkah mereka selanjutnya. Partai yang seimbang, tidak mustahil diselesaikan dengan adu penalti.
Perkiraan: KROASIA, waktu normal.
Belanda kembali diuji efektivitas serangannya lewat pertarungannya dengan arsitek yang sudah sangat mengenal pemain-pemain lawan, Rusia dengan Guus Hiddink-nya. Keberanian Rusia untuk bermain terbuka dan mendominasi cukup efektif, walaupun sempat tumpul di hadapan Spanyol. Belanda sendiri cukup teruji pertahanannya dengan hanya kebobolan 1 gol, bahkan saat melawan tim sekelas Italia dan Perancis. Kelemahannya hanya pada mental yang sering cepat puas. Jika pemain senior di kubu Belanda mampu mempertahankan semangat juang tim, kemenangan bukan hal sulit.
Perkiraan: BELANDA, waktu normal.
Italia melawan Spanyol juga termasuk partai yang sangat disayangkan sudah harus terjadi seawal ini. Pertahanan Italia mulai membaik, walaupun masih kesulitan dalam mempertajam serangan. Spanyol sendiri dapat dikatakan mempunyai pasangan striker yang terbaik dalam beberapa tahun belakangan, namun sering kesulitan dalam mengkreasikan serangan dari tengah lapangan. Kedua tim dapat menampilkan pertandingan yang berbeda dari apa yang sudah mereka tunjukkan sebelumnya.
Perkiraan: SPANYOL, waktu normal.
Ada pendapat lain?
Wednesday, June 18, 2008
Sang Drakula Terbakar Hangus Api Jingga
*****
Saya tidak tahu banyak mengenai negara-negara Eropa Timur, kecuali mungkin Rusia karena saya mengagumi kesusasteraannya, terutama kedua pujangga besarnya: Leo Tolstoi dan Fyodor Dostoyevski. Di luar itu, lagi-lagi cuma olah raga, sepakbola khususnya, yang menyingkap sedikit tirai pengetahuan mengenai Eropa Timur macam Hongaria, Romania, Ceska, Slovakia, dan sekitarnya. Jadi, jika orang bertanya, "Apa yang kau tahu tentang Romania?" Jawaban saya mungkin: Georghe Hagi, Adrian Mutu, Cristian Chivu (yang ini favorit saya), dan Nadia Comăneci. Oke, tambahkan Drakula deh, Transilvania kan bagian dari Romania. Lain itu, soal seni budaya dan seterusnya pengetahuan saya nol, demikian pula minat untuk mengenal lebih jauh.
Kemarin siang, saya diajak menghadiri lunch meeting oleh salah satu bank rekan bisnis perusahaan tempat saya bekerja. Pikir saya, mbok kalau mau makan siang ya makan siang saja; mengapa harus pakai acara rapat sekaligus? Tapi, karena dijamu dan atasan sedikit memaksa saya ikut, ikutlah saya. Mereka bawa pasukan, kami bawa pasukan. Setelah berkenalan, makan siang sambil rapatnya pun dimulai. Di samping saya, duduk seorang mbak yang wajahnya seperti orang India. Pembicaraan berayun dari soal bisnis, teknologi, isu perumahan rakyat, dan akhirnya kena juga favorit saya: sepakbola. Ternyata si Mbak itu mengikuti juga Piala Eropa yang sedang berlangsung dan mendukung, coba tebak: Romania. Kenapa? Karena ibunya orang Romania (asli). Maaf, kalau saya sedikit norak, tapi rasanya lumayan luar biasa bisa punya kenalan seseorang yang berdarah Romania. Si Mbak pun kontan berkata, "Wah, berarti kita musuh," begitu mengetahui saya pegang Belanda. Namun, dasar pendukung Oranje angkuh, saya dengan kalem mengatakan bahwa Romania bukan musuh bagi Belanda (karena dianggap nggak selevel tentunya) dan bahwa bagi pendukung Belanda, musuh terbesar adalah Jerman.
Tengah malam tadi, sembari menanti siaran langsung pertandingan tak menentukan bagi Belanda melawan Romania, saya berpikir, betapa semua ini di luar dugaan saya dan banyak penggemar sepakbola lainnya. Semula saya kira Belanda akan dipaksa berjuang hingga tetes keringat dan detik terakhir untuk sekedar lolos ke perempat final. Pertandingan melawan Romania akan menjadi sangat menarik karena dua-duanya mungkin masih punya kesempatan lolos mendampingi favorit juara, entah Italia entah Perancis, yang diprediksikan lolos terlebih dulu.
Tapi, prakiraan dan analisa banyak orang ditunggang-balikkan dengan performa Belanda di dua pertandingan sebelumnya. Dan saya kira, Victor Piturcă pun salah perhitungan. Setelah berhasil mengambil 4 poin dari Belanda di kualifikasi Piala Eropa, mungkin ia berpikir kalau bisa menahan imbang Perancis dan Italia lantas menang lawan Belanda maka mereka punya kesempatan besar lolos ke babak berikutnya. Prakiraan tinggal prakiraan. Sekarang, mereka harus menang kalau mau pasti lolos ke perempat final. Jadi, harapan saya, pertandingan ini akan tetap menarik karena meskipun Belanda menurunkan lapis keduanya, Romania akan memaksa Belanda bermain bola sungguhan. Hasilnya mungkin sekedar seri, tapi paling tidak disuguhi permainan menarik dan Van Basten tidak (kelihatan) mengalah begitu saja agar Italia dan Perancis pulang kampung.
Ternyata, dugaan saya salah. Romania seperti vampir yang belum minum darah lagi. Mereka bermain tanpa semangat juang dan tidak menunjukkan mereka niat menang. Tadinya, saya berharap mereka telah belajar dari Turki yang pantang menyerah dan akhirnya bisa memulangkan Petr Cech dan kawan-kawan ke Praha sana. Namun, kenyataannya meskipun Belanda sudah kelihatan santai dan tidak ngoyo, Romania tidak cukup berusaha menekan Belanda. Memang dari mulanya, mereka lebih mengutamakan pertahanan (yang sebenarnya ironis karena pelatihnya juga mantan striker hebat). Tapi tentunya dengan perhitungan bahwa begitu ada kesempatan mencetak gol, ya dimanfaatkan dong sebaik-baiknya. Sekian tendangan berlalu dari Adrian Mutu, Marius Niculae, dan Cristian Chivu yang mengarah ke gawang Belanda, tak ada yang berhasil merobek jala di belakang Maarten Stekelenburg. Sementara di pertandingan yang lain, Italia sudah memimpin 1-0. Wah, di mana keganasan Drakulanya? Sementara itu, di pihak Belanda, Robin Van Persie, Arjen Robben, dan Klaas-Jan Huntelaar masing-masing berlatih menembak dan (seperti sengaja) gagal.
Saya mulai bosan di sepertiga babak pertama. Rasanya seperti berkencan dengan pria pendiam yang takut memulai ‘serangan’ setelah sebelumnya berkencan dengan dua pria lain yang bisa memacu adrenalin dan membuat tereksitasi. Babak kedua pun tak jauh berbeda. Malah akhirnya, Belanda yang ‘terpaksa’ mencetak gol karena dibiarkan bermain bebas tanpa perlawanan yang cukup berarti. Terus terang saya kecewa berat. Kalau tuan rumah Swiss saja masih mau berjuang biarpun sudah pasti tidak lolos, mengapa Romania yang harusnya lebih berpeluang maju ke perempat final justru lesu darah begini? Oke, jujur pula saya akui, saya berharap Perancis dan Italia (apalagi Italia!) tidak lolos seperti kebanyakan pendukung Oranje lainnya. Jadi, memang Romania bikin gemas dan gregetan dengan keloyoannya itu.
Ketika kemudian pertandingan mendekati akhir dan teks berjalan di layar membocorkan berita bahwa Italia telah menambah keunggulan atas Perancis menjadi 2-0, saya makin jemu melihat pasukan drakula tanpa taring itu. Apalagi lantas Robin Van Persie menambahkan lagi satu gol tiga menit menjelang peluit panjang. Habis sudah Romania dan seluruh Italia bersorak bahagia: FORZA ITALIA!
Ah, ternyata, akhirnya Sang Drakula hangus juga dimakan api Jingga.
Oranje Boven!
Monday, June 16, 2008
Merci, Monsieurs, mais je préfère l’équipe de Pays-Bas!
Saya selalu terpesona dengan Perancis: bahasanya, filmnya, Parisnya, anggurnya, Asterixnya, dan banyak lagi. Bahasanya yang indah dan seksi kedengarannya membuat kita mungkin tidak akan cepat sadar kalau sebenarnya sedang dicaci-maki. Filmnya yang cenderung lebih nyeni daripada film-film komersil dari Amerika sana membuat saya memaksa diri belajar bahasa Perancis agar tidak selalu terpaku dengan teks terjemahan. Paris, yang konon salah satu kota paling romantis di dunia, masuk dalam daftar cita-cita kunjungan saya – meskipun, yang lebih menarik bagi saya adalah arsitektur dan karya-karya seni yang ada di sana, bukan romansanya. Lalu, remaja 90-an mana yang tidak suka komik Asterix? Ya, Perancis memang cantik dan elegan, tapi juga punya cita-rasa humor yang renyah.
Oh, ya, satu hal penting lain (yang merupakan salah satu yang terpenting bagi saya): Perancis juga punya Zinedine Zidane. Saya dulu menyebutnya salah satu Dewa sepakbola saking terpesonanya dengan permainannya yang selain berteknis luar biasa, juga cerdas. Tidak heran kalau Perancis berjaya di masanya. Michel Platini pun tidak mampu memenangkan segalanya, tapi Zidane bisa. Bahkan di akhir karir gemilangnya, dia masih sempat membawa Perancis ke final Piala Dunia 2006. Saya pikir, tanpa provokasi Matterazi, Perancis akan menjadi juara dunia untuk kedua kalinya saat itu. Well, nasib berbicara lain dan Italia juara. Hidup harus terus berjalan.
Dua tahun dalam kalender sepakbola berlalu. Zizou tinggal kenangan. Tapi Perancis punya bakat-bakat baru, tentu saja, seperti Franck Ribéry, Samir Nasri, Karim Benzema, Sidney Govou dan lain-lain. Sementara para veteran dengan nama besar pun belum semuanya pensiun; masih ada Thierry Henry, Lilian Thuram, William Galas, Patrick Vieira, dan Claude Makalele. Jadi, sungguh menciutkan hati tatkala saya melihat bahwa tim Oranje saya harus ditempatkan satu grup dengan Perancis (dan Italia!). Duh, mimpi buruk apa? Belanda yang sekarang bukan Belanda dua puluh atau sepuluh tahun yang lalu. Tidak pernah kekurangan penyerang, memang; tapi, tidak punya kekuatan pertahanan yang cukup juga. Pelatihnya pun mantan striker dan penganut filosofi totaal voetbal secara total pula sehingga agak susah diajak me-modif sedikit skema permainannya. Sekali 4-3-3, tetap 4-3-3. Mosok Belanda main dengan skema bertahan 4-5-1 (atau variannya)? Walhasil, saya jadi menyiapkan mental untuk menghadapi kemungkinan bahwa Belanda tidak lolos penyisihan grup. Pikir saya, paling tidak toh masih lolos ke putaran final dan bisa ikut meramaikan di minggu pertama pesta sepakbola Eropa. Sudah itu, ya jadi penonton netral saja.
Tapi, orang bijak dan pintar biasanya tidak selalu benar. Yang membedakan mereka adalah belajar dari pengalaman dan kesalahan serta mau beradaptasi. Jadi, saya senang saat melihat line-up Belanda melawan Italia. Pikir saya saat itu, wah, bisa lah seri. Menit-menit berlalu. Lho, kok mainnya keren begini? Lho, kok golnya Nistelrooij nggak dianulir (terima kasih, Bu Dewi Fortuna!)? Lho, kok bisa memanfaatkan serangan balik dengan sedemikian dahsyat efektivitasnya? Lho, kok…menang?!!! Lawan Italia! Setelah 30 tahun! Ijinkan saya histeris sedikit. Besok-besok lawan Perancis belum tentu menang lagi soalnya. Seorang pengamat sepakbola yang cukup dipandang di sebuah komunitas sepakbola yang saya ikuti pun bilang, pertahanan Perancis masih nomor satu. Oke. Fine. Saya juga sudah senang kok bisa menang lawan Italia.
Hari Jumat lalu, saya mengakhiri hari dengan bermain bowling dengan beberapa teman meskipun sebenarnya agak sedikit demam. Maksudnya, biar paling tidak saya sempat bersenang-senang dulu sebelum bersakit-sakit (hati) kemudian JIKA Belanda kalah. Bayangan saya adalah Belanda akan berusaha menggedor pertahanan Perancis, frustasi, lantas dengan lucunya Thierry Henry akan mencetak gol kemenangan Perancis. Lalu, saya harus bersiap-siap dengan segala SMS ledekan dan celaan soal kekalahan Belanda. Begitu perkiraan saya.
Sabtu, 14 Juni 2008 01.45 WIB. Saya berbaring di tempat tidur menatap monitor saat lagu kebangsaan kedua negara yang bertanding dikumandangkan. Ah, kata saya dalam hati, saya harus mempelajari lagu kebangsaan Perancis "La Marseillaise" karena nada refrainnya bikin bersemangat: "Marchons! Marchons! Qu’un sang impur…abreuve nos sillons!" (Maju! Maju! Biar darah tak murni mereka membasahi ladang kita!). Sebenarnya, lagunya lumayan horor kalau diterjemahkan, mungkin karena dibuat saat revolusi Perancis yang penuh genangan darah. Anyway, saya cukup tenang menonton pertandingan besar ini dimulai. Bahkan saat Dirk Kuyt mencetak gol pertama, saya senang tapi perjalanan masih panjang, sekitar 80 menit lagi. Segalanya masih bisa terjadi. Apalagi kemudian saya lihat bagaimana Ribéry demikian merepotkan dan dengan Govou berhasil menguji keabsahan klaim bahwa Edwin Van der Saar adalah salah satu penjaga gawang terbaik dunia.
Babak kedua dimulai dan tak lama kemudian, Marco Van Basten membuat perubahan yang mungkin bikin beberapa orang mengernyitkan dahi. Direpotkan serangan lawan kok malah masukin dua sayap? Tapi, entah kenapa saya setuju dengan taktiknya. Pertahanan Perancis harus dibikin lebih repot lagi agar pemain tengahnya gak bisa dengan santai bantu-bantu mbolongin pertahanan Belanda. Jadi ketika tidak lama kemudian Robin Van Persie membuat skor menjadi 2-0 untuk Belanda, saya mulai histeris. Baru bisa agak tenang sedikit ketika saya melihat masih setengah jam lagi, waktu yang cukup untuk Perancis mengejar ketinggalan. Dan benar saja, sepuluh menit kemudian saya dengan gugup menggigit bibir sendiri ketika Thierry Henry mencetak gol balasan. Oh! Yang penting jangan kalah. Tapi, dalam sekelebatan, Arjen Robben tahu-tahu sudah ada di ujung lapangan sana dan terciptalah sebuah gol cantik dari sudut yang aneh. Lilian Thuram, Willy Sagnol dan William Gallas tidak bisa mencegah lebih baik dari yang sudah mereka usahakan. Paling tidak, menurut mata awam saya.
Ah, betapa pertandingan ini menjadi sajian sepakbola indah yang memanjakan pecinta Oranje! Finalis Piala Dunia 2006 menjadi obyek taklukan Belanda berikutnya. Kurang alasan apa lagi bagi seorang gadis penggila timnas Belanda buat bersorak kegirangan? Well, kurang satu gol lagi. Wesley Sneijder yang sudah sukses menjadi otak serangan Belanda bersama Rafael Van der Vaart, menutup pertandingan ini dengan sebuah tendangan jarak jauh yang membuahkan gol gagah yang masuk tipis di bawah mistar gawang. Skor akhir Belanda 4 Perancis 1. Dan saya secara resmi histeris. Merci, Monsieurs, mais je préfère l’équipe de Pays-Bas! Thank you, Gentlemen, but I prefer the Netherlands’ team!
Seluruh mata dunia kini menatap Belanda dengan lebih serius dibandingkan kemarin-kemarin. Itulah resikonya berhasil mempecundangi Italia dan Perancis. Ekspektasi orang melesat bagai roket oranye pesat ke langit biru. Tapi, tidak ekspektasi saya. Saya cuma mau menikmati padang bunga tulip jingga selama belum layu. Itu saja sudah cukup. Lebih dari itu, bonus!
Oranje Boven!