It's kinda late to write this feature, but whattacare, i'm not writing newspaper, it's a blog, remember? Hehehe... Bukannya supaya tidak dibaca, tapi murni kurang waktu luang aja; ok, let's start!
Semifinal Euro kali ini cukup unik. Bukan berarti semifinal di Euro sebelumnya kurang unik, tapi mungkin baru kali ini mendadak muncul suatu kebetulan yang hampir menjadi pembenaran menyeluruh: SEMUA runner-up grup (ada kecualinya: Spanyol) maju ke semifinal: Turki (A), Jerman (B), dan Rusia (D). Hmm, tidak ada wakil dari grup neraka??? Yups, mereka semua terbakar di kawah candradimuka selama 3 partai, sehingga setelah keluar dari sana, yang tersisa hanyalah sanga...
Kebetulan yang terlalu dipaksakan? Tidak juga, kalau saja Anda mau perhatikan. Ketiga tim runner-up tersebut tidak mengendurkan gasnya di 3 pertandingan awal, selalu mencari formasi terbaik yang sempurna dan cocok dengan ramuan strategi sang pelatih. Mereka menjaga momentum, menjaga ritme permainan, sampai memperhitungkan grafik permainan, yang diharapkan akan mencapai klimaks di final 4 hari lagi. Jika ada halangan, itu adalah karena akumulasi kartu dan cedera pemain. Runner-up terakhir yang tidak lolos, Italia, merasakan pahitnya kehilangan -- bukan satu, melainkan -- dua pemain inti, sehingga gagal menciptakan sejarah di Euro kali ini.
Jerman harus menunggu Bastian Schweinsteiger untuk segera pulih -- sialnya begitu pulih, ia terkena hukuman kartu merah -- serta terus menunggu sampai Michael Ballack dan Miroslav Klose mencapai puncaknya; sedangkan Portugal terlalu sombong untuk menurunkan tim intinya dalam tiga partai berturut. Turki kehilangan bek kanan Sabri Sarioglu di partai awal, sehingga cukup mengganggu keseimbangan; dan Kroasia menganggap kemenangan melawan Jerman sangat besar, sehingga kalau bisa, mereka mau berhenti di situ saja dan tidak melanjutkan sisa kompetisi ini. Rusia bermain di dua partai awal tanpa tarian Andrei Arshavin yang memabukkan, sedangkan Belanda bermain-main dengan nasib ketiga tim lainnya di grup mereka untuk lolos dari "neraka".
Dari ketiga kandidat juara ini, saat ini bisa dibilang Turki lah yang paling sial, karena dengan jumlah pemain terhukum akibat akumulasi kartu yang meningkat serta badai cedera, akhirnya stok pemain untuk menghadapi Jerman HANYA 13 orang. Dengan baluan semangat militan yang mereka miliki, mereka masih mungkin mengejutkan Eropa. Namun, Jerman tetap sedikit diuntungkan, terutama bila ternyata lawannya telah lelah dan melewati klimaks permainan mereka.
Calon finalis: JERMAN, perpanjangan waktu.
Sekaranglah saatnya bagi Spanyol untuk merasakan dampak kehadiran Arshavin bagi tim Beruang Merah. Luis Aragones akan berpikir keras bagaimana meredam permainan Rusia yang sangat dinamis dalam menyerang dan bertahan, ketika di saat yang sama timnya belum mampu mengeluarkan permainan terbaik yang membuat mereka pantas diunggulkan. Skor 4-1 di pertemuan pertama akan coba dibalik oleh pasukan Guus Hiddink, sedangkan Si Bijak dari Hortoleza akan mempertaruhkan ke-"bijak"-kannya di hadapan calon master Total Football yang baru.
Calon finalis: RUSIA, waktu normal.
Showing posts with label fase gugur. Show all posts
Showing posts with label fase gugur. Show all posts
Wednesday, June 25, 2008
Tuesday, June 24, 2008
Lengkap Sudah Keempat Semifinalis
Kembali dua tim tak terduga menumbangkan tim-tim yang lebih difavoritkan. Rusia, si kuda hitam mampu disetir Guus Hiddink dengan jempolan hingga melewati juniornya, Marco Van Basten dan Belanda; sedangkan Italia -- katanya, walaupun mereka sering ngos-ngosan di fase grup, jangan harap mereka akan mudah ditaklukkan jika sudah lolos dari grup -- tidak bisa kembali menyuruh dewi fortuna untuk membelokkan tendangan penalti pemain-pemain Spanyol, seperti yang telah dilakukannya kepada Adrian Mutu.
Rusia benar-benar mengajari Belanda bagaimana Total Voetbal sesungguhnya -- atau "абсолєтный футбћл", bahasa Rusianya. Permainan bertenaga yang dinamis a la Hiddink hanya mampu diimbangi seadanya oleh barisan kreator besutan Van Basten. Kepiawaian Edwin Van der Sar tidak membuat mereka frustasi, dan akhirnya di babak kedua gol pertama pun tercipta melalui kaki Roman Pavlyuchenko, setelah duetnya dengan Andrei Arshavin terus menerus membuat bek-bek Belanda sakit perut karena takut kebobolan. Melalui serangan sporadis, Belanda mampu memperpanjang napas di penghujung waktu normal, setelah umpan tendangan bebas Wesley Sneijder mampu disundul Ruud van Nistelrooy, tapi hanya sampai di situ perjuangan mereka. Di babak perpanjangan waktu, melalui kaki Arshavin, tercipta 2 gol lagi, satu umpan ke kepala Dmitri Torbinsky, satu lagi dituntaskannya sendiri dari sebuah lemparan ke dalam kilat. Dan Van Basten hanya bisa terkulai saat kepalanya dielus Hiddink...
Sedangkan partai antara dua tim favorit penggemar, Italia dan Spanyol, berlangsung datar, cenderung membosankan; hal yang bisa terlihat dari hasil akhir berupa kemenangan yang ditentukan dari adu penalti. Kedua tim memainkan bola dengan terlalu hati-hati sehingga menjadi antiklimaks dari semua partai pada babak perempat final kali ini. Iker Casillas, yang bermain bagus di waktu normal, kembali menjadi pahlawan dengan memblok 2 tendangan penalti dari Daniele De Rossi dan Antonio Di Natale. Di semifinal sudah menanti tim yang mereka kalahkan di pertandingan pertama fase grup dengan 4-1.
Rusia benar-benar mengajari Belanda bagaimana Total Voetbal sesungguhnya -- atau "абсолєтный футбћл", bahasa Rusianya. Permainan bertenaga yang dinamis a la Hiddink hanya mampu diimbangi seadanya oleh barisan kreator besutan Van Basten. Kepiawaian Edwin Van der Sar tidak membuat mereka frustasi, dan akhirnya di babak kedua gol pertama pun tercipta melalui kaki Roman Pavlyuchenko, setelah duetnya dengan Andrei Arshavin terus menerus membuat bek-bek Belanda sakit perut karena takut kebobolan. Melalui serangan sporadis, Belanda mampu memperpanjang napas di penghujung waktu normal, setelah umpan tendangan bebas Wesley Sneijder mampu disundul Ruud van Nistelrooy, tapi hanya sampai di situ perjuangan mereka. Di babak perpanjangan waktu, melalui kaki Arshavin, tercipta 2 gol lagi, satu umpan ke kepala Dmitri Torbinsky, satu lagi dituntaskannya sendiri dari sebuah lemparan ke dalam kilat. Dan Van Basten hanya bisa terkulai saat kepalanya dielus Hiddink...
Sedangkan partai antara dua tim favorit penggemar, Italia dan Spanyol, berlangsung datar, cenderung membosankan; hal yang bisa terlihat dari hasil akhir berupa kemenangan yang ditentukan dari adu penalti. Kedua tim memainkan bola dengan terlalu hati-hati sehingga menjadi antiklimaks dari semua partai pada babak perempat final kali ini. Iker Casillas, yang bermain bagus di waktu normal, kembali menjadi pahlawan dengan memblok 2 tendangan penalti dari Daniele De Rossi dan Antonio Di Natale. Di semifinal sudah menanti tim yang mereka kalahkan di pertandingan pertama fase grup dengan 4-1.
Saturday, June 21, 2008
Jerman Usir Portugal, Turki Lebih Tangguh Dari Kroasia
Dua tim sudah pulang dan berusaha melupakan mimpi indah mengangkat tropi Kejuaraan Eropa. Ironisnya, keduanya merupakan tim yang lebih diunggulkan di mata para pengamat sepakbola netral. Tetapi drama Piala Eropa masih akan melanjutkan cerita-cerita tak terduga lainnya di sisi bawah. Sisi atas telah meloloskan Jerman dan Turki yang akan memperebutkan satu tempat di final.
Jerman kurang diunggulkan melawan Portugal, namun statusnya sebagai tim spesialis turnamen tetap mengerikan di mata lawan-lawannya. Kali ini, Portugal kena batunya. Jika melihat permainan tim Bavaria ini di babak penyisihan, memang kurang meyakinkan jika dibandingkan dengan tim Brasilnya Eropa ini. Tapi setelah meraih gol penting di partai lawan Austria, perubahan formasi serta penerapan taktik yang tepat menjadi kunci di partai hidup-mati ini. Sedangkan Portugal, yang bisa dibilang kurang mendapat lawan sepadan di fase grup, bermain tanpa mengubah apa-apa dari formasi dan taktik yang diterapkan pada 2 partai awal, padahal lawannya adalah juara Eropa 3 kali, yang juga mengalahkan mereka di perebutan juara ketiga pada pergelaran Piala Dunia terakhir. Formasi sukses Jerman itu antara lain dengan memasangkan duet penyerang Miroslav Klose-Lukas Podolski, berhubung Mario Gomez kurang dapat bekerja sama dengan Klose di fase grup. Di tengah, ketiadaan Torsten Frings diganti Simon Rolfes dengan baik. Meskipun tidak ada tendangan spekulasi khas Frings, namun lini tengah Portugal dibuat mati ide dalam membangun serangan. Sayap yang sebelumnya kurang agresif mendapat suntikan dengan bermainnya Bastian Schweinsteiger serta Thomas Hitzlsperger. Bek kanan Marcell Jansen yang juga kurang baik dalam membantu serangan merelakan tempatnya pada Arne Friedrich.
Mulai babak pertama, Jerman terus mendominasi pertandingan, dan menuai hasilnya melalui gebrakan di sayap kiri oleh Podolski yang dituntaskan Schweinsteiger. Berikutnya dalam sebuah tendangan bebas, Schweinsteiger kembali berperan setelah umpannya dengan cermat disundul Klose, gol pertama sang top skor Piala Dunia 2006. Kesialan Portugal bisa dikatakan bertambah karena Joao Moutinho harus ditandu dan diganti Raul Meireles. Di akhir babak, Portugal sedikit bernapas lega setelah tendangan Cristiano Ronaldo yang ditepis Jens Lehmann mampu dituntaskan sang kapten, Nuno Gomes. Babak kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Jerman menambah gol setelah Michael Ballack menyambut umpan dari tendangan bebas, sesuatu yang sebenarnya sudah disadari Luis Felipe Scolari sebagai kelemahan timnya. Namun gol ini sendiri menuai kontroversi, karena terlihat Ballack "sedikit" mendorong Paulo Ferreira saat akan melompat. Mencoba membalikkan keadaan, Scolari memasukkan Helder Postiga dan Nani menggantikan Nuno Gomes dan Armando Petit. Kedua pemain ini terbukti mampu menambah daya serang timnya sehingga menghasilkan gol kedua di lima menit terakhir. Sayangnya, gol ketiga yang ditunggu-tunggu tak hadir juga dan Jerman menunggu pemenang partai perempat final kedua.
From-Zero-To-Hero: BASTIAN SCHWEINSTEIGER. Pergerakannya benar-benar merepotkan pertahanan lawannya, sehingga tidak mampu lepas dari tekanan Jerman. Umpan-umpannya set-piece yang terukur dan naluri mencetak gol yang tinggi seakan menghapus dosanya saat bertindak konyol di partai melawan Kroasia, ketika ia mendapat kartu merah saat Jerman sedang berusaha mencari gol penyeimbang.
From-Hero-To-Zero: CRISTIANO RONALDO. Permainan yang menawan saat menghancurkan Cek tidak kelihatan sama sekali. Sikap egoisnya bahkan merusakkan permainan indah timnya. Hampir setiap bola yang sedang dikuasainya di dekat area penalti ditembakkan langsung ke arah gawang, lebih dari setengahnya tidak menemui target. Bahkan gol Nuno Gomes pun sebenarnya hasil dari tendangannya yang tidak mampu ditangkap Lehmann, padahal dia bisa mengumpan biasa untuk mengkreasikan gol.
Keesokan harinya dimainkan partai antara dua kuda hitam yang tak kalah menariknya. Namun karena terlalu berhati-hati, babak pertama berjalan lambat. Permainan baru "dimulai" di babak kedua, namun dengan kecenderungan bahwa kedua pelatih mengantisipasi pertandingan yang panjang, maka pergantian pemain dilakukan secara berhati-hati. Sial bagi Turki, dalam menghentikan serangan lawan, mereka banyak menerima kartu kuning, sehingga 3 pemainnya dipastikan mendapat skorsing 1 partai setelah pertandingan ini. Rustu Rechber memainkan peran yang vital saat ia mampu mementahkan tendangan bebas keras Darijo Srna dan peluang emas lainnya, antara lain dari Ivica Olic.
Drama sesungguhnya baru dimulai saat babak perpanjangan waktu. Dalam satu pergerakan menusuk sisi kiri pertahanan Turki, Luca Modric mampu memanfaatkan kesalahan Rustu dan umpan lambungnya tidak disia-siakan Ivan Klasnic, 1-0 untuk Kroasia di menit ke-119! Di saat genting ini, pelatih Slaven Bilic ingin membuang waktu dengan memasukkan pemain pengganti, namun tidak diperhatikan wasit. Bola offside Mladen Petric langsung ditendang Rustu jauh ke depan, dan dimanfaatkan dengan baik oleh penyerang pengganti Semih Senturk yang dengan tendangan spekulasinya mampu menyamakan kedudukan di saat wasit sudah akan meniup peluit tanda akhir pertandingan, 1-1 di menit ke-122!
Penalti pun dimainkan, dengan situasi yang memihak Turki akibat gol penyama kedudukan itu. Adu penalti pun menjadi ajang pertaruhan pelatih, dan pengalaman Fatih Terim mengalahkan Bilic. Pemain-pemain muda Kroasia yang ditugaskan untuk mengambil penalti terlihat tegang, sehingga dari 4 pemain hanya 1 yang berhasil. Turki pun mampu melangkah ke semifinal, pencapaian terbaik selama mereka mengikuti Piala Eropa.
Fakta menarik: OFFSIDE PERTAMA di pertandingan ini tercatat pada menit ke-62 oleh Ivica Olic, sesuatu yang tidak lazim melihat kecenderungan kedua tim yang silih berganti menyerang, walaupun kendali lebih ke Kroasia.
Jerman kurang diunggulkan melawan Portugal, namun statusnya sebagai tim spesialis turnamen tetap mengerikan di mata lawan-lawannya. Kali ini, Portugal kena batunya. Jika melihat permainan tim Bavaria ini di babak penyisihan, memang kurang meyakinkan jika dibandingkan dengan tim Brasilnya Eropa ini. Tapi setelah meraih gol penting di partai lawan Austria, perubahan formasi serta penerapan taktik yang tepat menjadi kunci di partai hidup-mati ini. Sedangkan Portugal, yang bisa dibilang kurang mendapat lawan sepadan di fase grup, bermain tanpa mengubah apa-apa dari formasi dan taktik yang diterapkan pada 2 partai awal, padahal lawannya adalah juara Eropa 3 kali, yang juga mengalahkan mereka di perebutan juara ketiga pada pergelaran Piala Dunia terakhir. Formasi sukses Jerman itu antara lain dengan memasangkan duet penyerang Miroslav Klose-Lukas Podolski, berhubung Mario Gomez kurang dapat bekerja sama dengan Klose di fase grup. Di tengah, ketiadaan Torsten Frings diganti Simon Rolfes dengan baik. Meskipun tidak ada tendangan spekulasi khas Frings, namun lini tengah Portugal dibuat mati ide dalam membangun serangan. Sayap yang sebelumnya kurang agresif mendapat suntikan dengan bermainnya Bastian Schweinsteiger serta Thomas Hitzlsperger. Bek kanan Marcell Jansen yang juga kurang baik dalam membantu serangan merelakan tempatnya pada Arne Friedrich.
Mulai babak pertama, Jerman terus mendominasi pertandingan, dan menuai hasilnya melalui gebrakan di sayap kiri oleh Podolski yang dituntaskan Schweinsteiger. Berikutnya dalam sebuah tendangan bebas, Schweinsteiger kembali berperan setelah umpannya dengan cermat disundul Klose, gol pertama sang top skor Piala Dunia 2006. Kesialan Portugal bisa dikatakan bertambah karena Joao Moutinho harus ditandu dan diganti Raul Meireles. Di akhir babak, Portugal sedikit bernapas lega setelah tendangan Cristiano Ronaldo yang ditepis Jens Lehmann mampu dituntaskan sang kapten, Nuno Gomes. Babak kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Jerman menambah gol setelah Michael Ballack menyambut umpan dari tendangan bebas, sesuatu yang sebenarnya sudah disadari Luis Felipe Scolari sebagai kelemahan timnya. Namun gol ini sendiri menuai kontroversi, karena terlihat Ballack "sedikit" mendorong Paulo Ferreira saat akan melompat. Mencoba membalikkan keadaan, Scolari memasukkan Helder Postiga dan Nani menggantikan Nuno Gomes dan Armando Petit. Kedua pemain ini terbukti mampu menambah daya serang timnya sehingga menghasilkan gol kedua di lima menit terakhir. Sayangnya, gol ketiga yang ditunggu-tunggu tak hadir juga dan Jerman menunggu pemenang partai perempat final kedua.
From-Zero-To-Hero: BASTIAN SCHWEINSTEIGER. Pergerakannya benar-benar merepotkan pertahanan lawannya, sehingga tidak mampu lepas dari tekanan Jerman. Umpan-umpannya set-piece yang terukur dan naluri mencetak gol yang tinggi seakan menghapus dosanya saat bertindak konyol di partai melawan Kroasia, ketika ia mendapat kartu merah saat Jerman sedang berusaha mencari gol penyeimbang.
From-Hero-To-Zero: CRISTIANO RONALDO. Permainan yang menawan saat menghancurkan Cek tidak kelihatan sama sekali. Sikap egoisnya bahkan merusakkan permainan indah timnya. Hampir setiap bola yang sedang dikuasainya di dekat area penalti ditembakkan langsung ke arah gawang, lebih dari setengahnya tidak menemui target. Bahkan gol Nuno Gomes pun sebenarnya hasil dari tendangannya yang tidak mampu ditangkap Lehmann, padahal dia bisa mengumpan biasa untuk mengkreasikan gol.
Keesokan harinya dimainkan partai antara dua kuda hitam yang tak kalah menariknya. Namun karena terlalu berhati-hati, babak pertama berjalan lambat. Permainan baru "dimulai" di babak kedua, namun dengan kecenderungan bahwa kedua pelatih mengantisipasi pertandingan yang panjang, maka pergantian pemain dilakukan secara berhati-hati. Sial bagi Turki, dalam menghentikan serangan lawan, mereka banyak menerima kartu kuning, sehingga 3 pemainnya dipastikan mendapat skorsing 1 partai setelah pertandingan ini. Rustu Rechber memainkan peran yang vital saat ia mampu mementahkan tendangan bebas keras Darijo Srna dan peluang emas lainnya, antara lain dari Ivica Olic.
Drama sesungguhnya baru dimulai saat babak perpanjangan waktu. Dalam satu pergerakan menusuk sisi kiri pertahanan Turki, Luca Modric mampu memanfaatkan kesalahan Rustu dan umpan lambungnya tidak disia-siakan Ivan Klasnic, 1-0 untuk Kroasia di menit ke-119! Di saat genting ini, pelatih Slaven Bilic ingin membuang waktu dengan memasukkan pemain pengganti, namun tidak diperhatikan wasit. Bola offside Mladen Petric langsung ditendang Rustu jauh ke depan, dan dimanfaatkan dengan baik oleh penyerang pengganti Semih Senturk yang dengan tendangan spekulasinya mampu menyamakan kedudukan di saat wasit sudah akan meniup peluit tanda akhir pertandingan, 1-1 di menit ke-122!
Penalti pun dimainkan, dengan situasi yang memihak Turki akibat gol penyama kedudukan itu. Adu penalti pun menjadi ajang pertaruhan pelatih, dan pengalaman Fatih Terim mengalahkan Bilic. Pemain-pemain muda Kroasia yang ditugaskan untuk mengambil penalti terlihat tegang, sehingga dari 4 pemain hanya 1 yang berhasil. Turki pun mampu melangkah ke semifinal, pencapaian terbaik selama mereka mengikuti Piala Eropa.
Fakta menarik: OFFSIDE PERTAMA di pertandingan ini tercatat pada menit ke-62 oleh Ivica Olic, sesuatu yang tidak lazim melihat kecenderungan kedua tim yang silih berganti menyerang, walaupun kendali lebih ke Kroasia.
Label:
fase gugur,
piala eropa,
piala eropa 2008,
sepakbola
Thursday, June 19, 2008
Saatnya Mereka Berguguran...
Lupakan penyisihan grup, saatnya memasuki tahap yang lebih menegangkan. Kalah berarti pulang, menang berarti maju, sejauh mana dapat melangkah. Kejutan tetap ada, ingat Yunani yang datang dan mengambil piala juara dari para raksasa Eropa lainnya di pagelaran sebelumnya.
Kalaupun bisa disebut kejutan (atau malah Kejutannya kejutan!) yaitu tersingkirnya juara bertahan Yunani secara tragis, tidak mampu mendapat poin dari tiga pertandingannya di grup tidak terlalu maut yang hanya melibatkan tim yang susah berprestasi di turnamen tapi tetap dianggap tim besar: Spanyol, tim yang selalu hebat di kualifikasi namun hanya bisa mengejutkan di turnamen sebenarnya: Swedia, serta tim yang tidak diharapkan karena telah menyingkirkan negara penemu sepakbola modern yang sekarang banyak diidolai: Rusia. Swedia kemudian menemani Yunani untuk pulang lebih awal.
Nah, lantas bagaimana dengan grup yang maut bang...ged? Gimana ga maut, ada tiga tim juara Eropa di sini (plus 4 gelar juara dunia, kalau itu masuk hitungan, but what the heck...) dan satu tim ngeyel pisan: Rumania, yang susah disuruh pulang. Buktinya, dua tim finalis piala dunia lalu (sekali lagi, sepertinya piala dunia tidak berarti apa-apa di sini) harus berebut tiket terakhir: Italia-Perancis, sambil mengemis pada tim lain: Belanda.
Lalu, dua tim tuan rumah yang harus rehat lebih awal karena ditaklukkan lawan yang lebih mumpuni. Swiss, di satu sisi, harus Portugal dan Turki -- yang akhirnya lolos -- serta Cek. Di sisi lain, Austria menghadapi Kroasia dan tim paling diunggulkan di turnamen ini: Jerman, serta tim yang juga akhirnya tidak lolos: Polandia.
Lalu bagaimana kans para kontestan di perempat final? Hari ini kita akan menyaksikan pertarungan terlalu dini antara Portugal dan Jerman. Portugal lolos dari grup A dengan dua kemenangan meyakinkan serta memberikan satu partai pada tuan rumah Swiss. Barisan pertahanan mereka kurang teruji, kontras dengan serangan maut barisan penyerangnya. Jerman sendiri kesulitan meramu serangan yang berujung pada sedikitnya gol pada fase grup. Kelemahan yang sangat tereksploitir saat melawan Kroasia akan coba diulangi oleh Portugal. Namun sebagai tim spesialis turnamen, Jerman tidak akan kalah begitu saja.
Perkiraan: JERMAN, perpanjangan waktu.
Turki akan mencoba melawan tim yang seimbang antara skill individu dengan kolektivitas, Kroasia. Pengalaman Kroasia dalam meredam keunggulan teknik pemain Jerman sangat berharga dalam menentukan langkah mereka selanjutnya. Partai yang seimbang, tidak mustahil diselesaikan dengan adu penalti.
Perkiraan: KROASIA, waktu normal.
Belanda kembali diuji efektivitas serangannya lewat pertarungannya dengan arsitek yang sudah sangat mengenal pemain-pemain lawan, Rusia dengan Guus Hiddink-nya. Keberanian Rusia untuk bermain terbuka dan mendominasi cukup efektif, walaupun sempat tumpul di hadapan Spanyol. Belanda sendiri cukup teruji pertahanannya dengan hanya kebobolan 1 gol, bahkan saat melawan tim sekelas Italia dan Perancis. Kelemahannya hanya pada mental yang sering cepat puas. Jika pemain senior di kubu Belanda mampu mempertahankan semangat juang tim, kemenangan bukan hal sulit.
Perkiraan: BELANDA, waktu normal.
Italia melawan Spanyol juga termasuk partai yang sangat disayangkan sudah harus terjadi seawal ini. Pertahanan Italia mulai membaik, walaupun masih kesulitan dalam mempertajam serangan. Spanyol sendiri dapat dikatakan mempunyai pasangan striker yang terbaik dalam beberapa tahun belakangan, namun sering kesulitan dalam mengkreasikan serangan dari tengah lapangan. Kedua tim dapat menampilkan pertandingan yang berbeda dari apa yang sudah mereka tunjukkan sebelumnya.
Perkiraan: SPANYOL, waktu normal.
Ada pendapat lain?
Kalaupun bisa disebut kejutan (atau malah Kejutannya kejutan!) yaitu tersingkirnya juara bertahan Yunani secara tragis, tidak mampu mendapat poin dari tiga pertandingannya di grup tidak terlalu maut yang hanya melibatkan tim yang susah berprestasi di turnamen tapi tetap dianggap tim besar: Spanyol, tim yang selalu hebat di kualifikasi namun hanya bisa mengejutkan di turnamen sebenarnya: Swedia, serta tim yang tidak diharapkan karena telah menyingkirkan negara penemu sepakbola modern yang sekarang banyak diidolai: Rusia. Swedia kemudian menemani Yunani untuk pulang lebih awal.
Nah, lantas bagaimana dengan grup yang maut bang...ged? Gimana ga maut, ada tiga tim juara Eropa di sini (plus 4 gelar juara dunia, kalau itu masuk hitungan, but what the heck...) dan satu tim ngeyel pisan: Rumania, yang susah disuruh pulang. Buktinya, dua tim finalis piala dunia lalu (sekali lagi, sepertinya piala dunia tidak berarti apa-apa di sini) harus berebut tiket terakhir: Italia-Perancis, sambil mengemis pada tim lain: Belanda.
Lalu, dua tim tuan rumah yang harus rehat lebih awal karena ditaklukkan lawan yang lebih mumpuni. Swiss, di satu sisi, harus Portugal dan Turki -- yang akhirnya lolos -- serta Cek. Di sisi lain, Austria menghadapi Kroasia dan tim paling diunggulkan di turnamen ini: Jerman, serta tim yang juga akhirnya tidak lolos: Polandia.
Lalu bagaimana kans para kontestan di perempat final? Hari ini kita akan menyaksikan pertarungan terlalu dini antara Portugal dan Jerman. Portugal lolos dari grup A dengan dua kemenangan meyakinkan serta memberikan satu partai pada tuan rumah Swiss. Barisan pertahanan mereka kurang teruji, kontras dengan serangan maut barisan penyerangnya. Jerman sendiri kesulitan meramu serangan yang berujung pada sedikitnya gol pada fase grup. Kelemahan yang sangat tereksploitir saat melawan Kroasia akan coba diulangi oleh Portugal. Namun sebagai tim spesialis turnamen, Jerman tidak akan kalah begitu saja.
Perkiraan: JERMAN, perpanjangan waktu.
Turki akan mencoba melawan tim yang seimbang antara skill individu dengan kolektivitas, Kroasia. Pengalaman Kroasia dalam meredam keunggulan teknik pemain Jerman sangat berharga dalam menentukan langkah mereka selanjutnya. Partai yang seimbang, tidak mustahil diselesaikan dengan adu penalti.
Perkiraan: KROASIA, waktu normal.
Belanda kembali diuji efektivitas serangannya lewat pertarungannya dengan arsitek yang sudah sangat mengenal pemain-pemain lawan, Rusia dengan Guus Hiddink-nya. Keberanian Rusia untuk bermain terbuka dan mendominasi cukup efektif, walaupun sempat tumpul di hadapan Spanyol. Belanda sendiri cukup teruji pertahanannya dengan hanya kebobolan 1 gol, bahkan saat melawan tim sekelas Italia dan Perancis. Kelemahannya hanya pada mental yang sering cepat puas. Jika pemain senior di kubu Belanda mampu mempertahankan semangat juang tim, kemenangan bukan hal sulit.
Perkiraan: BELANDA, waktu normal.
Italia melawan Spanyol juga termasuk partai yang sangat disayangkan sudah harus terjadi seawal ini. Pertahanan Italia mulai membaik, walaupun masih kesulitan dalam mempertajam serangan. Spanyol sendiri dapat dikatakan mempunyai pasangan striker yang terbaik dalam beberapa tahun belakangan, namun sering kesulitan dalam mengkreasikan serangan dari tengah lapangan. Kedua tim dapat menampilkan pertandingan yang berbeda dari apa yang sudah mereka tunjukkan sebelumnya.
Perkiraan: SPANYOL, waktu normal.
Ada pendapat lain?
Subscribe to:
Posts (Atom)