Liga sepakbola di belahan dunia sono sudah selesai (sebagian mungkin masih, tapi tidak terlalu diperhatikan). Pergelaran Piala Eropa baru saja menelurkan juara, yang akan bertahta sampai 4 tahun ke depan. Balap motor Grand Prix dan mobil Formula-1 silih berganti mengisi kalender olahraga dunia, Indonesia, bahkan blog ini. Namun, sadarkan kita semua bahwa perayaan olahraga terbesar di bumi Indonesia akan dilangsungkan esok hari?
Hingar bingar olahraga dunia internasional begitu melenakan kita sebagai penikmat di Indonesia, sehingga walaupun sampai sekarang masih bertaraf sebagai "penonton", bukan "pelaku", kita terus mengikuti, bahkan rela mengadu urat "maju tak gentar membela yang benar" (menurut anggapan masing-masing) demi sesuatu yang mungkin berada jauh di luar jangkauan kita. Dan saat Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII akan digelar di Kalimantan Timur, akankan ada pasang mata sebanyak yang menoleh ke pesta sepakbola Eropa yang baru saja selesai dua minggu lalu itu?
PON tidak bisa dipungkiri merepresentasikan keadaan dunia olahraga Indonesia yang paling sahih, sekaligus menjadi potret pembangunan. Yang pertama mungkin masuk di akal, tapi yang kedua? Sejarah mencatat, bahwa sejak masa pemerintahan "Bapak Pembangunan Indonesia", hanya sekali (dan itu pun di masa-masa awal, dimana keputusan itu mungkin sudah dibuat sebelumnya) PON diadakan di luar Jakarta. Penyelenggaraan pesta olahraga se-Indonesia yang tersentralisasi seperti ini memberikan kesan bahwa pembangunan di masa itu terlalu berpusat di ibukota, sehingga tempat lain tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah. "Menjadi tuan rumah" bukan sekedar "kesempatan", tapi lebih kepada kesiapan sarana dan prasarana kota yang ditunjuk. Jika kota-kota di luar Jakarta tidak mendapat kesempatan, itu artinya karena mereka belum mampu menyiapkan sarana olahraga berskala internasional yang bisa digunakan sebagai sarana berkompetisi guna mendapatkan atlet-atlet berskala internasional yang nantinya akan mampu mengharumkan nama bangsa.
Fenomena yang bisa dikatakan memalukan dalam pelaksanaan acara ini adalah jual-beli pemain. Beberapa daerah (yang terang-terangan) melakukan segala cara untuk dapat menarik atlet yang berpotensi meraih medali ke daerahnya dengan iming-iming bonus jutaan rupiah. Saat ini mungkin penikmat olahraga sudah tidak terlalu memusingkan hal "kecil" seperti ini, karena sudah ada tontonan kelas kakap "Barclaycard Premiership League" (BPL) atau "National Basketball Association" (NBA). Namun di masa lampau, siapa yang pernah lupa akan perjuangan Jawa Barat untuk dapat mempertahankan Susy Susanti dari klaim DKI Jakarta bahwa atlet ini adalah milik mereka? Manajer PON Kaltim, sang tuan rumah, dalam wawancaranya dengan salah satu media olahraga berskala nasional terbesar di Indonesia, mengatakan bahwa untuk PON kali ini, banyak atlet luar daerah (tercatat kurang lebih 250 atlet) bahkan melamar ingin terdaftar menjadi atlet Kaltim. Alasannya? Apalagi kalau bukan bonus yang mencapai 150 juta rupiah per keping medali emas.
Perhatian kita, dalam hal ini rakyat Indonesia, dalam ruang lingkup yang terbatas bisa secara sekilas diliat dari entri ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, wikipedia. Jika dimasukkan kata kunci "pekan olahraga nasional", maka informasi yang didapat sangat terbatas. Bahkan di dalam database wiki, pergelaran PON di masa lampau tidak mendapat porsi yang layak, halaman-halaman tersebut hanya menyajikan informasi seadanya, tanpa data standar seperti juara umum dan cerita singkat beberapa pertandingan yang terjadi. Sudah semakin sedikitkah yang peduli pada perkembangan olahraga dalam negeri?
Mengenai pemilihan waktu PON kali ini, rasanya sudah cukup tepat. Paling tidak, setelah berbagai event besar dunia silih berganti datang dan pergi, kini saatnya insan olahraga nasional sejenak melihat ke dalam, menikmati dan memberikan apresiasi untuk para atlet Indonesia yang berjuang demi daerahnya masing-masing. Tinggal apakah penyelenggara dan para partisipan dapat mengejawantahkan harapan publik dalam negeri, yang ingin memberikan kesempatan sekali lagi, tanpa pernah bosan lagi dan lagi, untuk memberikan suatu pembuktian bahwa olahraga Indonesia bisa dibanggakan dan layak menjadi tontonan yang memuaskan, seperti layaknya tontonan dari luar negeri yang dicekokkan ke mata kita sepanjang tahun ini.
MAJU TERUS OLAHRAGA INDONESIA!
Friday, July 4, 2008
Tuesday, July 1, 2008
Mid-Summer Classic; Balloting At End!
2008 Major League Baseball All-Star Game is getting nearer, have you voted?
Well, you are allowed to vote a maximum of 25 times. The problem is: the deadline is dead near, at 11:59 PM ET (eastern time, means about 10:59 AM the next day in most of Asia region) on Wednesday, July 2, 2008.
This is my first vote:
There are comprehensive summaries of the players' statistic, in case voters get a bit confused. Honestly, this is my first participation, and it takes time for me to get all the fields completed, but the summaries really have been a helpful partner for a first-timer like me. A friend of mine, who is responsible for introducing me to this sport, said he won't vote this year, since when he voted two years ago, his team didn't win, and the opposite happened the next year (you know which team is it, don't you?)
So far, the leaders in the American League are:
First Base: YOUKILIS, Kevin - Boston RED SOX (leading by 300,000 votes)
Second Base: PEDROIA, Dustin - Boston RED SOX (200,000 votes)
Shortstop: JETER, Derek - New York YANKEES (1,100,000 votes)
Third Base: RODRIGUEZ, Alex - New York YANKEES (1,200,000 votes)
Catcher: MAUER, Joe - Minnesota TWINS (150,000 votes)
Designated Hitter: ORTIZ, David - Boston RED SOX (900,000 votes)
Outfield: RAMIREZ, Manny - Boston RED SOX; HAMILTON, Josh - Texas RANGERS; SUZUKI, Ichiro - Seattle MARINERS (200,000 votes)
and in the National League:
First Base: BERKMAN, Lance - Houston ASTROS (700,000 votes)
Second Base: UTLEY, Chase - Philadelphia PHILLIES (1,500,000 votes)
Shortstop: RAMIREZ, Hanley - Florida MARLINS (200,000 votes)
Third Base: JONES, Chipper - Atlanta BRAVES (1,100,000 votes)
Catcher: SOTO, Geovany - Chicago CUBS (700,000 votes)
Outfield: SORIANO, Alfonso - Chicago CUBS; GRIFFEY, Ken, Jr. - Cincinnati REDS; FUKUDOME, Kosuke - Chicago CUBS (50,000 votes)
on the other hand...
*Yanks duo Jeter and A-Rod (AL) still have 2 days left to chase Philadelphia's Chase Utley (NL) from gaining the most favorite players in 2008 All-Star, the first Philly, if so, to lead all players in all leagues since fans were given back the vote in 1970.
**Last year leading vote-getter, Cincinnati outfielder Ken Griffey, Jr. (NL), will start his 13th All-Star, the most of any player not named Cal Ripken Jr. (17) and Rod Carew (15).
***Big Papi still receive many acknowledgement as a designated hitter despite still suffering from left wrist injury; his replacement-to-be, Hideki MATSUI, also in disable list in the Yankees team.
****The 79th All-Star Game will mark Yankees Stadium's final season in participating to MLB games.
Well, you are allowed to vote a maximum of 25 times. The problem is: the deadline is dead near, at 11:59 PM ET (eastern time, means about 10:59 AM the next day in most of Asia region) on Wednesday, July 2, 2008.
This is my first vote:
So far, the leaders in the American League are:
First Base: YOUKILIS, Kevin - Boston RED SOX (leading by 300,000 votes)
Second Base: PEDROIA, Dustin - Boston RED SOX (200,000 votes)
Shortstop: JETER, Derek - New York YANKEES (1,100,000 votes)
Third Base: RODRIGUEZ, Alex - New York YANKEES (1,200,000 votes)
Catcher: MAUER, Joe - Minnesota TWINS (150,000 votes)
Designated Hitter: ORTIZ, David - Boston RED SOX (900,000 votes)
Outfield: RAMIREZ, Manny - Boston RED SOX; HAMILTON, Josh - Texas RANGERS; SUZUKI, Ichiro - Seattle MARINERS (200,000 votes)
and in the National League:
First Base: BERKMAN, Lance - Houston ASTROS (700,000 votes)
Second Base: UTLEY, Chase - Philadelphia PHILLIES (1,500,000 votes)
Shortstop: RAMIREZ, Hanley - Florida MARLINS (200,000 votes)
Third Base: JONES, Chipper - Atlanta BRAVES (1,100,000 votes)
Catcher: SOTO, Geovany - Chicago CUBS (700,000 votes)
Outfield: SORIANO, Alfonso - Chicago CUBS; GRIFFEY, Ken, Jr. - Cincinnati REDS; FUKUDOME, Kosuke - Chicago CUBS (50,000 votes)
on the other hand...
*Yanks duo Jeter and A-Rod (AL) still have 2 days left to chase Philadelphia's Chase Utley (NL) from gaining the most favorite players in 2008 All-Star, the first Philly, if so, to lead all players in all leagues since fans were given back the vote in 1970.
**Last year leading vote-getter, Cincinnati outfielder Ken Griffey, Jr. (NL), will start his 13th All-Star, the most of any player not named Cal Ripken Jr. (17) and Rod Carew (15).
***Big Papi still receive many acknowledgement as a designated hitter despite still suffering from left wrist injury; his replacement-to-be, Hideki MATSUI, also in disable list in the Yankees team.
****The 79th All-Star Game will mark Yankees Stadium's final season in participating to MLB games.
Sunday, June 29, 2008
Finally, It's Final!
It's the Final!
Dan kali ini adalah 2 tim favorit yang menunjukkan kebesaran nama mereka di sepakbola Eropa, dengan menumbangkan sejumlah kuda hitam. Jerman, pemilik 3 gelar Eropa, masuk final untuk yang keenam kalinya, dan akan berhadapan dengan Spanyol, yang sudah lebih dari 40 tahun haus akan gelar internasional dan ingin sekali memberikan prestasi semata wayangnya sebuah teman lagi.
Dengan pelatih yang sama-sama mengerti strategi khusus pasukan dan lawan masing-masing, semuanya akan berpulang kepada bagaimana para pemain mengejawantahkan taktik yang telah mereka terima. Jika tidak ada perubahan, maka Jerman akan mengandalkan serangan dari sayap melalui bek berbahaya yang bisa mencetak gol, Philip Lahm, dan Lukas Podolski (kiri), serta sayap kanan produktif Bastian Schweinsteiger dibantu Arne Friederich dalam bertahan. Lahm dan Podolski akan bertemu dengan Sergio Ramos yang sangat brilian dalam bertahan dan menyerang, yang akan dibantu oleh Andres Iniesta, yang sangat mobil dalam menjelajah pertahanan lawan. Jens Lehmann di bawah mistar akan mendapat kawalan dari duo Pert Mertesacker dan Christoph Metzelder dalam menghalau serbuan Fernando Torres, yang sepertinya akan bekerja sendirian, setelah pasangan sehatinya David Villa harus minggir karena cedera, dengan sedikit bantuan dari David Silva dan Fransesc Fabregas. Torsten Frings dan Thomas Hitzlperger akan mencoba menghalau Xavi Hernandez berkreasi membangun serangan dengan leluasa. Michael Ballack bakal mendapat kawalan ketat dari Marcos Senna dalam mengirim umpan-umpan terobosan. Iker Casillas akan menjaga gawang Spanyol dengan Charles Puyol dan Carlos Marchena bertugas meringankan tugasnya dari gangguan Miroslav Klose, yang hebat dalam memenangkan duel di udara. Juan Capdevilla di kiri akan mencoba menahan agar Schweinsteiger tidak leluasa mengancam gawang Casillas.
Pertandingan akan ketat, bahkan cenderung berhati-hati di awal. Jika ada gol di menit-menit awal, maka permainan akan cenderung terbuka. Namun bila tidak, bukan mustahil akan terjadi adu penalti.
Prediksi juara: Jerman diunggulkan dari segi materi dan mental, tapi Spanyol sepertinya akan mampu mengatasi semua beban yang dipanggulnya. SPANYOL!
Dan kali ini adalah 2 tim favorit yang menunjukkan kebesaran nama mereka di sepakbola Eropa, dengan menumbangkan sejumlah kuda hitam. Jerman, pemilik 3 gelar Eropa, masuk final untuk yang keenam kalinya, dan akan berhadapan dengan Spanyol, yang sudah lebih dari 40 tahun haus akan gelar internasional dan ingin sekali memberikan prestasi semata wayangnya sebuah teman lagi.
Dengan pelatih yang sama-sama mengerti strategi khusus pasukan dan lawan masing-masing, semuanya akan berpulang kepada bagaimana para pemain mengejawantahkan taktik yang telah mereka terima. Jika tidak ada perubahan, maka Jerman akan mengandalkan serangan dari sayap melalui bek berbahaya yang bisa mencetak gol, Philip Lahm, dan Lukas Podolski (kiri), serta sayap kanan produktif Bastian Schweinsteiger dibantu Arne Friederich dalam bertahan. Lahm dan Podolski akan bertemu dengan Sergio Ramos yang sangat brilian dalam bertahan dan menyerang, yang akan dibantu oleh Andres Iniesta, yang sangat mobil dalam menjelajah pertahanan lawan. Jens Lehmann di bawah mistar akan mendapat kawalan dari duo Pert Mertesacker dan Christoph Metzelder dalam menghalau serbuan Fernando Torres, yang sepertinya akan bekerja sendirian, setelah pasangan sehatinya David Villa harus minggir karena cedera, dengan sedikit bantuan dari David Silva dan Fransesc Fabregas. Torsten Frings dan Thomas Hitzlperger akan mencoba menghalau Xavi Hernandez berkreasi membangun serangan dengan leluasa. Michael Ballack bakal mendapat kawalan ketat dari Marcos Senna dalam mengirim umpan-umpan terobosan. Iker Casillas akan menjaga gawang Spanyol dengan Charles Puyol dan Carlos Marchena bertugas meringankan tugasnya dari gangguan Miroslav Klose, yang hebat dalam memenangkan duel di udara. Juan Capdevilla di kiri akan mencoba menahan agar Schweinsteiger tidak leluasa mengancam gawang Casillas.
Pertandingan akan ketat, bahkan cenderung berhati-hati di awal. Jika ada gol di menit-menit awal, maka permainan akan cenderung terbuka. Namun bila tidak, bukan mustahil akan terjadi adu penalti.
Prediksi juara: Jerman diunggulkan dari segi materi dan mental, tapi Spanyol sepertinya akan mampu mengatasi semua beban yang dipanggulnya. SPANYOL!
Thursday, June 26, 2008
Draft NBA 2008
Juara NBA 2008 sudah dipastikan, air mata Garnett pun sudah mengering. Sekarang saatnya panggung bergeser ke para bintang NBA masa depan akan dipajang untuk dipilih oleh para tim-tim peserta asosiasi. Yang beruntung akan mendapat calon bintang, yang kurang beruntung bisa mencoba lagi tahun berikutnya, atau menggunakan hak untuk menukar pemainnya.
Tahun ini, hampir dipastikan Derrick Rose dan Michael Beasley akan menempati 2 urutan draft teratas, siapa pun juga yang lebih dulu dipilih. Chicago Bulls sebagai pemilih pertama, disusul Miami Heat di posisi kedua, tentu tidak sepusing tim-tim setelah mereka. O.J. Mayo, calon bintang dari SMU, yang sempat terlibat kasus kontrak ilegal pra-draft, difavoritkan untuk menjadi pilihan berikutnya, yang dimiliki oleh Minnesota Timberwolves.
Para pengamat bahkan sudah memperkirakan siapa-siapa yang akan menjadi calon Hall-Of-Fame dan pemain berstandar All-Star. Kita tunggu saja apakah ini musim bertabur bintang... atau hanya penyumbang pemain "biasa-biasa" saja.
Tahun ini, hampir dipastikan Derrick Rose dan Michael Beasley akan menempati 2 urutan draft teratas, siapa pun juga yang lebih dulu dipilih. Chicago Bulls sebagai pemilih pertama, disusul Miami Heat di posisi kedua, tentu tidak sepusing tim-tim setelah mereka. O.J. Mayo, calon bintang dari SMU, yang sempat terlibat kasus kontrak ilegal pra-draft, difavoritkan untuk menjadi pilihan berikutnya, yang dimiliki oleh Minnesota Timberwolves.
Para pengamat bahkan sudah memperkirakan siapa-siapa yang akan menjadi calon Hall-Of-Fame dan pemain berstandar All-Star. Kita tunggu saja apakah ini musim bertabur bintang... atau hanya penyumbang pemain "biasa-biasa" saja.(foto Kansas #30 adalah milik msnbc.com)
Wednesday, June 25, 2008
Spanyol Dikepung Para Runner-Up
It's kinda late to write this feature, but whattacare, i'm not writing newspaper, it's a blog, remember? Hehehe... Bukannya supaya tidak dibaca, tapi murni kurang waktu luang aja; ok, let's start!
Semifinal Euro kali ini cukup unik. Bukan berarti semifinal di Euro sebelumnya kurang unik, tapi mungkin baru kali ini mendadak muncul suatu kebetulan yang hampir menjadi pembenaran menyeluruh: SEMUA runner-up grup (ada kecualinya: Spanyol) maju ke semifinal: Turki (A), Jerman (B), dan Rusia (D). Hmm, tidak ada wakil dari grup neraka??? Yups, mereka semua terbakar di kawah candradimuka selama 3 partai, sehingga setelah keluar dari sana, yang tersisa hanyalah sanga...
Kebetulan yang terlalu dipaksakan? Tidak juga, kalau saja Anda mau perhatikan. Ketiga tim runner-up tersebut tidak mengendurkan gasnya di 3 pertandingan awal, selalu mencari formasi terbaik yang sempurna dan cocok dengan ramuan strategi sang pelatih. Mereka menjaga momentum, menjaga ritme permainan, sampai memperhitungkan grafik permainan, yang diharapkan akan mencapai klimaks di final 4 hari lagi. Jika ada halangan, itu adalah karena akumulasi kartu dan cedera pemain. Runner-up terakhir yang tidak lolos, Italia, merasakan pahitnya kehilangan -- bukan satu, melainkan -- dua pemain inti, sehingga gagal menciptakan sejarah di Euro kali ini.
Jerman harus menunggu Bastian Schweinsteiger untuk segera pulih -- sialnya begitu pulih, ia terkena hukuman kartu merah -- serta terus menunggu sampai Michael Ballack dan Miroslav Klose mencapai puncaknya; sedangkan Portugal terlalu sombong untuk menurunkan tim intinya dalam tiga partai berturut. Turki kehilangan bek kanan Sabri Sarioglu di partai awal, sehingga cukup mengganggu keseimbangan; dan Kroasia menganggap kemenangan melawan Jerman sangat besar, sehingga kalau bisa, mereka mau berhenti di situ saja dan tidak melanjutkan sisa kompetisi ini. Rusia bermain di dua partai awal tanpa tarian Andrei Arshavin yang memabukkan, sedangkan Belanda bermain-main dengan nasib ketiga tim lainnya di grup mereka untuk lolos dari "neraka".
Dari ketiga kandidat juara ini, saat ini bisa dibilang Turki lah yang paling sial, karena dengan jumlah pemain terhukum akibat akumulasi kartu yang meningkat serta badai cedera, akhirnya stok pemain untuk menghadapi Jerman HANYA 13 orang. Dengan baluan semangat militan yang mereka miliki, mereka masih mungkin mengejutkan Eropa. Namun, Jerman tetap sedikit diuntungkan, terutama bila ternyata lawannya telah lelah dan melewati klimaks permainan mereka.
Calon finalis: JERMAN, perpanjangan waktu.
Sekaranglah saatnya bagi Spanyol untuk merasakan dampak kehadiran Arshavin bagi tim Beruang Merah. Luis Aragones akan berpikir keras bagaimana meredam permainan Rusia yang sangat dinamis dalam menyerang dan bertahan, ketika di saat yang sama timnya belum mampu mengeluarkan permainan terbaik yang membuat mereka pantas diunggulkan. Skor 4-1 di pertemuan pertama akan coba dibalik oleh pasukan Guus Hiddink, sedangkan Si Bijak dari Hortoleza akan mempertaruhkan ke-"bijak"-kannya di hadapan calon master Total Football yang baru.
Calon finalis: RUSIA, waktu normal.
Semifinal Euro kali ini cukup unik. Bukan berarti semifinal di Euro sebelumnya kurang unik, tapi mungkin baru kali ini mendadak muncul suatu kebetulan yang hampir menjadi pembenaran menyeluruh: SEMUA runner-up grup (ada kecualinya: Spanyol) maju ke semifinal: Turki (A), Jerman (B), dan Rusia (D). Hmm, tidak ada wakil dari grup neraka??? Yups, mereka semua terbakar di kawah candradimuka selama 3 partai, sehingga setelah keluar dari sana, yang tersisa hanyalah sanga...
Kebetulan yang terlalu dipaksakan? Tidak juga, kalau saja Anda mau perhatikan. Ketiga tim runner-up tersebut tidak mengendurkan gasnya di 3 pertandingan awal, selalu mencari formasi terbaik yang sempurna dan cocok dengan ramuan strategi sang pelatih. Mereka menjaga momentum, menjaga ritme permainan, sampai memperhitungkan grafik permainan, yang diharapkan akan mencapai klimaks di final 4 hari lagi. Jika ada halangan, itu adalah karena akumulasi kartu dan cedera pemain. Runner-up terakhir yang tidak lolos, Italia, merasakan pahitnya kehilangan -- bukan satu, melainkan -- dua pemain inti, sehingga gagal menciptakan sejarah di Euro kali ini.
Jerman harus menunggu Bastian Schweinsteiger untuk segera pulih -- sialnya begitu pulih, ia terkena hukuman kartu merah -- serta terus menunggu sampai Michael Ballack dan Miroslav Klose mencapai puncaknya; sedangkan Portugal terlalu sombong untuk menurunkan tim intinya dalam tiga partai berturut. Turki kehilangan bek kanan Sabri Sarioglu di partai awal, sehingga cukup mengganggu keseimbangan; dan Kroasia menganggap kemenangan melawan Jerman sangat besar, sehingga kalau bisa, mereka mau berhenti di situ saja dan tidak melanjutkan sisa kompetisi ini. Rusia bermain di dua partai awal tanpa tarian Andrei Arshavin yang memabukkan, sedangkan Belanda bermain-main dengan nasib ketiga tim lainnya di grup mereka untuk lolos dari "neraka".
Dari ketiga kandidat juara ini, saat ini bisa dibilang Turki lah yang paling sial, karena dengan jumlah pemain terhukum akibat akumulasi kartu yang meningkat serta badai cedera, akhirnya stok pemain untuk menghadapi Jerman HANYA 13 orang. Dengan baluan semangat militan yang mereka miliki, mereka masih mungkin mengejutkan Eropa. Namun, Jerman tetap sedikit diuntungkan, terutama bila ternyata lawannya telah lelah dan melewati klimaks permainan mereka.
Calon finalis: JERMAN, perpanjangan waktu.
Sekaranglah saatnya bagi Spanyol untuk merasakan dampak kehadiran Arshavin bagi tim Beruang Merah. Luis Aragones akan berpikir keras bagaimana meredam permainan Rusia yang sangat dinamis dalam menyerang dan bertahan, ketika di saat yang sama timnya belum mampu mengeluarkan permainan terbaik yang membuat mereka pantas diunggulkan. Skor 4-1 di pertemuan pertama akan coba dibalik oleh pasukan Guus Hiddink, sedangkan Si Bijak dari Hortoleza akan mempertaruhkan ke-"bijak"-kannya di hadapan calon master Total Football yang baru.
Calon finalis: RUSIA, waktu normal.
Tuesday, June 24, 2008
Lengkap Sudah Keempat Semifinalis
Kembali dua tim tak terduga menumbangkan tim-tim yang lebih difavoritkan. Rusia, si kuda hitam mampu disetir Guus Hiddink dengan jempolan hingga melewati juniornya, Marco Van Basten dan Belanda; sedangkan Italia -- katanya, walaupun mereka sering ngos-ngosan di fase grup, jangan harap mereka akan mudah ditaklukkan jika sudah lolos dari grup -- tidak bisa kembali menyuruh dewi fortuna untuk membelokkan tendangan penalti pemain-pemain Spanyol, seperti yang telah dilakukannya kepada Adrian Mutu.
Rusia benar-benar mengajari Belanda bagaimana Total Voetbal sesungguhnya -- atau "абсолєтный футбћл", bahasa Rusianya. Permainan bertenaga yang dinamis a la Hiddink hanya mampu diimbangi seadanya oleh barisan kreator besutan Van Basten. Kepiawaian Edwin Van der Sar tidak membuat mereka frustasi, dan akhirnya di babak kedua gol pertama pun tercipta melalui kaki Roman Pavlyuchenko, setelah duetnya dengan Andrei Arshavin terus menerus membuat bek-bek Belanda sakit perut karena takut kebobolan. Melalui serangan sporadis, Belanda mampu memperpanjang napas di penghujung waktu normal, setelah umpan tendangan bebas Wesley Sneijder mampu disundul Ruud van Nistelrooy, tapi hanya sampai di situ perjuangan mereka. Di babak perpanjangan waktu, melalui kaki Arshavin, tercipta 2 gol lagi, satu umpan ke kepala Dmitri Torbinsky, satu lagi dituntaskannya sendiri dari sebuah lemparan ke dalam kilat. Dan Van Basten hanya bisa terkulai saat kepalanya dielus Hiddink...
Sedangkan partai antara dua tim favorit penggemar, Italia dan Spanyol, berlangsung datar, cenderung membosankan; hal yang bisa terlihat dari hasil akhir berupa kemenangan yang ditentukan dari adu penalti. Kedua tim memainkan bola dengan terlalu hati-hati sehingga menjadi antiklimaks dari semua partai pada babak perempat final kali ini. Iker Casillas, yang bermain bagus di waktu normal, kembali menjadi pahlawan dengan memblok 2 tendangan penalti dari Daniele De Rossi dan Antonio Di Natale. Di semifinal sudah menanti tim yang mereka kalahkan di pertandingan pertama fase grup dengan 4-1.
Rusia benar-benar mengajari Belanda bagaimana Total Voetbal sesungguhnya -- atau "абсолєтный футбћл", bahasa Rusianya. Permainan bertenaga yang dinamis a la Hiddink hanya mampu diimbangi seadanya oleh barisan kreator besutan Van Basten. Kepiawaian Edwin Van der Sar tidak membuat mereka frustasi, dan akhirnya di babak kedua gol pertama pun tercipta melalui kaki Roman Pavlyuchenko, setelah duetnya dengan Andrei Arshavin terus menerus membuat bek-bek Belanda sakit perut karena takut kebobolan. Melalui serangan sporadis, Belanda mampu memperpanjang napas di penghujung waktu normal, setelah umpan tendangan bebas Wesley Sneijder mampu disundul Ruud van Nistelrooy, tapi hanya sampai di situ perjuangan mereka. Di babak perpanjangan waktu, melalui kaki Arshavin, tercipta 2 gol lagi, satu umpan ke kepala Dmitri Torbinsky, satu lagi dituntaskannya sendiri dari sebuah lemparan ke dalam kilat. Dan Van Basten hanya bisa terkulai saat kepalanya dielus Hiddink...
Sedangkan partai antara dua tim favorit penggemar, Italia dan Spanyol, berlangsung datar, cenderung membosankan; hal yang bisa terlihat dari hasil akhir berupa kemenangan yang ditentukan dari adu penalti. Kedua tim memainkan bola dengan terlalu hati-hati sehingga menjadi antiklimaks dari semua partai pada babak perempat final kali ini. Iker Casillas, yang bermain bagus di waktu normal, kembali menjadi pahlawan dengan memblok 2 tendangan penalti dari Daniele De Rossi dan Antonio Di Natale. Di semifinal sudah menanti tim yang mereka kalahkan di pertandingan pertama fase grup dengan 4-1.
USA mencari emas
Timnas bola basket USA kemaren mengumumkan skuadnya untuk partisipasi di Olympiade Beijing.
1. Carmelo Anthony
2. Jason Kidd
3. Carlos Boozer
4. Chris Paul
5. Chris Bosh
6. Tayshaun Prince
7. Kobe Bryant
8. Michael Redd
9. Dwight Howard
10. Dwyane Wade
11. LeBron James
12. Deron Williams
Sekilas ngelihat timnya kelihatannya tim ini belum mencerminkan nomor satu di NBA karena ada beberapa nama pemain papan atas NBA yang tidak ada di roster seperti Tim Duncan, Tracy McGrady, Allen Iverson dan big threenya Celtics, Kevin Garnett, Ray Allen dan Paul Pierce.
Tim USA terakhir menang kejuaraan bola basket internasional di Olympiade Sydney 2000, setelah itu tim USA yang diperkuat para pemain NBA belum pernah memenangkan apapun baik di Olympiade maupun kejuaraan dunia FIBA.
Mampukah tim ini memenangkan gelar pertamanya sejak Olympiade 2000. Bila tak mampu, makin kuatlah argumen bahwa pusat kekuatan bola basket dunia sudah berpindah dari USA.
1. Carmelo Anthony
2. Jason Kidd
3. Carlos Boozer
4. Chris Paul
5. Chris Bosh
6. Tayshaun Prince
7. Kobe Bryant
8. Michael Redd
9. Dwight Howard
10. Dwyane Wade
11. LeBron James
12. Deron Williams
Sekilas ngelihat timnya kelihatannya tim ini belum mencerminkan nomor satu di NBA karena ada beberapa nama pemain papan atas NBA yang tidak ada di roster seperti Tim Duncan, Tracy McGrady, Allen Iverson dan big threenya Celtics, Kevin Garnett, Ray Allen dan Paul Pierce.
Tim USA terakhir menang kejuaraan bola basket internasional di Olympiade Sydney 2000, setelah itu tim USA yang diperkuat para pemain NBA belum pernah memenangkan apapun baik di Olympiade maupun kejuaraan dunia FIBA.
Mampukah tim ini memenangkan gelar pertamanya sejak Olympiade 2000. Bila tak mampu, makin kuatlah argumen bahwa pusat kekuatan bola basket dunia sudah berpindah dari USA.
Subscribe to:
Posts (Atom)